Equityworld Futures Surabaya – Update berita terbaru terkait Suara Pengamat soal Kondisi Ekonomi RI di Tengah Alarm Moody’s Cs yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Pertama, ketidakpastian kebijakan (policy uncertainty).
Jelas memicu konflik kepentingan yang terang benderang.
Lembaga pemeringkat kredit global tersebut menyoroti meningkatnya ketidakpastian. Selain itu, koherensi yang terjadi dalam pembuatan kebijakan di Indonesia.
“Peringatan MSCI datang pada waktu yang tidak tepat,” ujar Manajer Portofolio Allspring Global Investments Gary Tan yang berbasis di Singapura, seperti dilansir Reuters..
Begitu harga naik, langsung di dump atau jual, yang rugi investor ritel.” ujar Bhima kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/2)..
Hal ini seperti praktik pump and dump yang melibatkan pemegang saham pengendali. Selain itu, afiliasinya..
Di samping itu, risiko tata kelola. Selain itu, kelembagaan yang muncul juga dapat memengaruhi kepercayaan investor.
“Hal ini memicu respons khas ‘jual dulu, baru bertanya kemudian’ dari investor pasif. Selain itu, yang berorientasi pada tolok ukur, yang mengakibatkan koreksi tajam dalam jangka pendek,” tambah Tan..
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai pasar modal Indonesia di mata asing masih di fase wait and see. Fundamental makro ekonomi Indonesia masih relatif solid, seperti utang pemerintah terkendali, sektor perbankan terbilang stabil,. Selain itu, basis domestik kuat.
Para ahli strategi di UBS AG juga menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral..
Hal itu berpotensi meningkatkan biaya pinjaman. Selain itu, mempertaruhkan ketahanan ekonomi jangka panjang..
Dalam laporannya, analis perusahaan menilai kekhawatiran MSCI dapat memicu arus keluar lebih dari US$13 miliar jika pasar Indonesia diturunkan statusnya..
Menurutnya, dengan kondisi pasar modal saat ini, termasuk ketidakpastian kebijakan, Indonesia mulai dinilai berisiko medium sampai tinggi..
Moody’s Investors Service (Moody’s) memangkas outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, sementara untuk afirmasi peringkat kredit bertahan di level Baa2 (satu tingkat di atas batas investment grade)..
“Ini dikhawatirkan ada investor yang menggunakan entitas lain untuk saling jual-beli saham.
Kekhawatiran pasar juga dipicu demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan saham yang hendak dibeli oleh BPI Danantara sehingga memicu konflik kepentingan yang terlihat jelas..
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan masalah transparansi bursa, yakni penerima manfaat akhir dari saham (beneficial ownership) di Indonesia masih abu-abu.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan pasar modal Indonesia di mata asing?.
Namun di sisi lain ada sentimen global yang melihat Indonesia masih kehilangan kejelasan arah kebijakan..
Keputusan MSCI muncul ketika aliran modal asing keluar di tengah kekhawatiran tentang bagaimana Presiden Prabowo Subianto memperluas defisit fiskal, serta meningkatkan keterlibatan negara di pasar keuangan..
Investor akhirnya melihat bursa tidak independen,” ujar Bhima..
Bhima menjelaskan praktik pump and dump adalah ketika pemegang saham pengendali bekerja sama dengan entitas lain yang seolah tidak terafiliasi, membeli saham sekunder (nominee).
“Ibarat kata, investor asing seperti pilot, mereka masih bisa terbang di cuaca buruk, tapi butuh radar. Selain itu, menara kontrol yang jelas.
“Kekhawatiran bertambah ketika demutualisasi BEI mau dibeli sahamnya oleh Danantara.
Kemudian, dalam prosesnya disusun juga berbagai sentimen positif memanfaatkan influencer..
memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
Nah, yang dipangkas Moody’s. Selain itu, disorot Goldman dan MSCI bukan ekonominya semata, tapi ketidakpastian policy framework.
“(Itu) dapat membebani stabilitas ekonomi. Selain itu, fiskal, serta meningkatkan volatilitas pasar,” tulis Moody’s dikutip Tradingview, Kamis (5/2)..
“Kami memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut. Selain itu, menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis Analis Goldman Sachs, Timothy Moe dkk, dalam sebuah laporan yang dilansir Bloomberg..
Ronny pun mengungkapkan terdapat tiga masalah utama, khususnya dalam pasar modal Indonesia.
Keputusan itu muncul setelah lembaga penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), menyoroti masalah transparansi. Selain itu, risiko penurunan status Indonesia menjadi pasar negara berkembang..
Policy framework ini ibarat radar. Selain itu, menara kontrol bagi mereka,” terangnya..
Masih unpredictable di mata investor,” ujar Ronny saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (6/2)..
Ketiga, dominasi kebijakan non-market friendly.
Ia menegaskan pasar modal Indonesia masih layak di mata asing tetapi saat ini Indonesia lebih cocok untuk investor jangka panjang, bukan investor yang sensitif terhadap sinyal kebijakan..
Kedua, transparansi. Selain itu, governance pasar modal.
Hal ini disebabkan oleh terdapat kesan pasar modal sering diperlakukan sebagai instrumen pendukung kebijakan, bukan ekosistem yang perlu dijaga independensinya. sehingga Hal ini.
Hal itu sejalan dengan komunikasi kebijakan yang dianggap lemah, sehingga meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah..
Hal ini membuat pasar melihat seringnya terjadi perubahan aturan, komunikasi kebijakan yang kurang sinkron antarotoritas, serta kecenderungan kebijakan yang reaktif membuat investor sulit memproyeksikan risiko..
“Pasar global kurang suka jika mekanisme harga terlalu sering ‘diintervensi’, sekalipun judulnya niat baik,” katanya..
Menurutnya, investor global sensitif terhadap isu rule of law, perlindungan investor minoritas,. Selain itu, konsistensi penegakan aturan.
Sebelum rilis outlook dari Moody’s, bank investasi Goldman Sachs. Selain itu, UBS juga menurunkan rekomendasi mereka untuk saham-saham Indonesia pada Kamis (29/1)..
Perkembangan terkait Suara Pengamat soal Kondisi Ekonomi RI di Tengah Alarm Moody’s Cs akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Sumber artikel: Sumber Asli
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
Perhatian: Trading futures mengandung risiko kerugian. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
Baca juga:
- Equityworld Trillium Surabaya – Emas Turun Dibawah Level Psikologis 2.000 Dollar per ounce
- Equity World Trillium Surabaya – The Fed Menahan Laju Pengetatan, GBP/USD Melonjak Tajam ke Level Tertinggi 7 Minggu