Equity World Futures Surabaya – Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata. Meski demikian, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump.
Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat turun 0,2% pada perdagangan Kamis, membalikkan penguatan yang sebelumnya terjadi akibat ketegangan militer yang berlangsung semalam.
Mata Uang Berisiko Menguat, Euro Sentuh Level Tertinggi
Di kelompok mata uang G-10, mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko seperti Krona Swedia (SEK) dan Dolar Selandia Baru (NZD) menjadi pemimpin penguatan. Sementara itu, euro sempat menyentuh level US$1,1650.
Pelaku pasar menilai potensi meredanya konflik geopolitik dapat mengurangi premi risiko yang selama ini mendukung penguatan dolar AS. Dengan menurunnya ketidakpastian global, investor mulai beralih ke aset dan mata uang yang lebih berisiko.
Isi Kesepakatan AS-Iran Masih Menunggu Persetujuan Trump
Berdasarkan laporan Axios, nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran mencakup beberapa poin penting, antara lain:
- Perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.
- Dimulainya kembali negosiasi mengenai masa depan program nuklir Iran.
- Jaminan kelancaran pelayaran dan perdagangan melalui Selat Hormuz tanpa hambatan.
Meskipun kabar ini disambut positif oleh pasar, para trader masih bersikap hati-hati karena kesepakatan tersebut belum resmi berlaku dan masih bergantung pada persetujuan Presiden Donald Trump.
Akibatnya, arah pergerakan dolar AS dalam beberapa minggu ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita dan keputusan politik terkait kesepakatan tersebut.
Data Inflasi AS Turut Menekan Dolar
Selain faktor geopolitik, dolar AS juga mendapat tekanan dari data inflasi terbaru Amerika Serikat.
Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan April naik sebesar 0,4% secara bulanan (month-on-month), lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 0,5%.
Data ini memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga saat ini tanpa harus segera melakukan pengetatan kebijakan moneter tambahan.
Namun demikian, pasar swap masih memperhitungkan sekitar 60% peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun, di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Kekhawatiran utama investor tetap tertuju pada inflasi yang masih bertahan tinggi akibat kenaikan biaya energi global.
Konflik Timur Tengah Dorong Kenaikan Dolar dan Harga Minyak
Sejak konflik memanas pada akhir Februari, dolar AS tercatat menguat sekitar 1%, sementara harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 30%.
Lonjakan harga energi tersebut mendorong investor untuk mengevaluasi kembali ketahanan masing-masing mata uang terhadap guncangan komoditas dan energi global.
Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures
- Akun Demo Trading
- Registrasi Online
- Data Historis Trading
- Kontak Resmi
- Profil Perusahaan
