0 0
Read Time:5 Minute, 27 Second

Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Harga Minyak Dunia Tak Masuk Akal, Ada Permainan China? yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.

Sebaliknya, produsen di Laut Utara bisa mempertahankan harga lebih tinggi..

Harga minyak juga terdorong oleh kenaikan biaya pengiriman.

Menurut Neil Crosby dari FGE NexantECA, kenaikan tersebut cukup besar untuk menyerap sebagian tambahan ekspor minyak Timur Tengah..

Akibatnya, lebih banyak kapal terpakai untuk mengangkut minyak sekaligus jumlah armada yang tersedia semakin terbatas…

Oleh sebab itu, biaya sewanya semakin mahal. menjadi konsekuensi dari Menurut Tom Reed dari Argus Media, pola ini membuat permintaan kapal tanker sulit diprediksi..

Kapal penerima bahkan bisa menunggu berhari-hari sebelum mendapat muatan.

China menjadi salah satu alasan mengapa tambahan pasokan minyak belum mampu menekan harga..

Kelompok Houthi dari Yaman juga menyerang sejumlah kota, bandara, kilang minyak, hingga jaringan pipa East-West milik Arab Saudi yang baru selesai diperbaiki..

Di tengah ketidakpastian tersebut, volume perdagangan kontrak berjangka Brent yang relatif rendah membuat harga minyak semakin sensitif terhadap spekulasi investor.

Pada tujuh hari di antaranya, pergerakan tersebut bertepatan dengan kabar perundingan damai atau meningkatnya ketegangan perang..

Dengan begitu, ketika pasokan minyak mulai pulih, permintaan China juga kembali meningkat.

Sejak Juli, China mulai melanjutkan ekspor produk olahan sekaligus meningkatkan impor minyak mentah..

Harga kontrak berjangka Brent, margin kilang, hingga biaya pengiriman untuk periode mendatang menunjukkan bahwa risiko tersebut masih diperhitungkan hingga 2027..

Jakarta, Equityworld Futures – Ekspor minyak dari Timur Tengah mulai pulih setelah berbulan-bulan terganggu akibat perang Iran.

Meski pasokan meningkat, harga minyak mentah Brent justru melonjak sekitar 20% sejak awal September hingga mencapai US$115 per barel..

Jika Trump tidak melanjutkan serangan, harga minyak diperkirakan bisa turun dalam hitungan hari..

Stok minyak di darat bahkan menjadi yang terendah dalam satu dekade terakhir..

Sementara itu, persediaan minyak global masih jauh dari level sebelum perang.

Dalam tiga pekan hingga 16 Oktober, impor minyak China sudah meningkat lebih dari 3 juta barel per hari dibandingkan Juni..

Selisih tersebut terutama mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan perang kembali mengganggu pasokan minyak Timur Tengah..

Mere. Tak hanya itu, ya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat membuat harga minyak turun, sementara margin kilang di sejumlah negara justru mencetak rekor. turut berperan penting..

Jumlah tersebut hanya sekitar 4 juta barel per hari di bawah level pada 2025..

JPMorgan Chase memperkirakan harga Brent saat ini sekitar US$20 per barel lebih mahal dari nilai wajarnya.

Akibatnya, impor minyak mentah China anjlok hampir separuh atau sekitar 6 juta barel per hari sepanjang Februari hingga Juni..

Kilang-kilang pun menggunakan persediaan yang ada, sementara konsumsi bahan bakar ikut menurun..

Kapal tanker milik negara harus melintasi Selat Hormuz secara tersembunyi untuk mengambil minyak, kemudian memindahkan muatannya ke kapal lain di Teluk Oman..

Salah satu pemicunya justru berasal dari cara China membeli minyak..

Produsen di Amerika Latin. Di samping itu, Afrika Barat harus memberikan diskon agar minyak mereka tetap kompetitif terjadi karena jaraknya lebih jauh dari pembeli. juga perlu diperhatikan..

Penurunan impor ini turut menahan kenaikan harga minyak dunia.

Meski demikian, China masih memiliki stok minyak yang besar, sementara negara-negara maju menyimpan ca. Selain itu, gan strategis yang kemungkinan akan digunakan jika harga kembali melonjak…

Sebelumnya, biaya pengiriman hanya menyumbang sekitar 4% hingga 7% dari biaya minyak yang sampai ke pembeli China.

Perbedaan ini ikut mendorong harga Brent naik..

Berdasarkan data Vortexa, ekspor minyak Timur Tengah telah melampaui 17 juta barel per hari dalam sepekan hingga 23 Oktober 2026.

Di saat bersamaan, meningkatnya ekspor minyak dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz membuat kebutuhan kapal tanker ikut bertambah..

Kilang China pun mendesak pemerintah agar kembali mengizinkan ekspor produk olahan..

Pengaruh konflik terhadap harga minyak terlihat dari pergerakan Brent sepanjang Oktober..

Menurut perhitungan Morgan Stanley, dalam sebulan hingga 22 Oktober terdapat delapan hari ketika harga Brent bergerak lebih dari US$2,50 per barel.

Meski pembelian China belakangan sedikit menurun, lonjakan sebelumnya ikut menahan harga minyak tetap tinggi..

Sebab, ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, permintaan dari China juga se. Di samping itu, g melemah. juga perlu diperhatikan..

Kondisi tersebut terjadi ketika ekspor minyak dari kawasan Teluk masih terhambat. Tak hanya itu, kilang-kilang Rusia terus menjadi sasaran serangan Ukraina turut berperan penting..

Namun, permintaan China, ditambah lagi dengan kenaikan ongkos kirim belum cukup menjelaskan tingginya harga minyak…

Sepanjang Oktober, Iran dilaporkan telah menyerang sedikitnya 30 kapal, jumlah terbanyak dalam satu bulan sejak perang dimulai..

Pada Maret 2026, pemerintah China melarang ekspor produk minyak olahan untuk menjaga pasokan dalam negeri di tengah perang Iran.

Pasar kini juga menunggu langkah Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November..

Dorongan beli dari pelaku pasar yang memperkirakan harga akan naik pun bisa memicu pergerakan harga yang lebih besar..

Ada tiga faktor yang membuat harga minyak tetap tinggi meski ekspor dari Timur Tengah mulai pulih, yakni meningkatnya pembelian minyak China, mahalnya ongkos pengiriman,. Di samping itu, kekhawatiran perang kembali memanas. juga perlu diperhatikan..

Untuk saat ini, pasar tampaknya belum melihat gangguan pasokan akan segera berakhir.

Selisih harga antara jenis minyak termurah, ditambah lagi dengan termahal bahkan sempat mendekati US per barel..

Sebaliknya, jika AS kembali melancarkan serangan besar-besaran yang disertai serangan Iran sekaligus Houthi, harga Brent berpotensi melonjak menjadi US0 sampai US0 per barel, menurut Jim Burkhard dari S&P Global…

// .

Alih-alih membeli berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan, China lebih banyak berburu harga murah di pasar spot.

Namun, harga minyak dunia justru terus melonjak, bahkan kembali mendekati level tertingginya pada April lalu..

International Energy Agency (IEA) mencatat stok minyak dunia yang terpantau hingga akhir September menyusut 509 juta barel dibandingkan akhir Februari 2026.

Pengiriman minyak melalui jalur tersebut juga semakin rumit.

Pada Oktober, porsinya melonjak menjadi 25% hingga 30%..

Perkembangan terkait Harga Minyak Dunia Tak Masuk Akal, Ada Permainan China? akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.


Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.

Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official

Baca juga:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By