Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Dikepung Perang – Kilang Dibom, Saudi Aramco Tetap Banjir Cuan! yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Saat ini, perusahaan memberikan diskon sekitar US$5 per barel untuk minyak mentah ringan yang dijual ke Asia dibandingkan harga acuan Dubai, meningkat dari diskon sekitar US$2 per barel pada bulan sebelumnya..
Untuk mengurangi risiko gangguan pengiriman ke depan, Aramco berencana memperluas kapasitas pipa East-West sekaligus mengembangkan jalur ekspor baru..
Namun, dampak konflik kali ini jauh lebih besar.
Aramco pun harus menanggung sebagian kenaikan biaya tersebut.
Berbagai langkah ini mulai menunjukkan hasil.
Untuk menjaga pasokan, Arab Saudi akhirnya kembali mengirimkan kapal tanker melalui Selat Hormuz menuju Teluk Oman.
Selisih tersebut memberikan ruang bagi Aramco untuk tetap menghasilkan keuntungan besar meskipun menghadapi gangguan produksi, ditambah lagi dengan distribusi…
Dengan harga minyak yang masih tinggi. Di samping itu, kebutuhan pasokan global yang berpotensi tetap kuat, Aramco memiliki peluang untuk terus mempertahankan keuntungan juga perlu diperhatikan..
Dalam paparan kinerja perusahaan, Nasser juga menyoroti persediaan minyak global yang semakin menipis..
Namun, di tengah kondisi tersebut, raksasa minyak Saudi Aramco justru masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba..
Meski demikian, tantangan terbesar kini datang dari biaya pengiriman minyak yang semakin mahal..
Sebagian kapal harus menunggu berhari-hari untuk melakukan pemindahan minyak antarkapal di Teluk Oman..
Alternatif lainnya adalah menghidupkan kembali jaringan pipa Irak-Arab Saudi sepanjang sekitar 1.500 kilometer yang menghubungkan Basra, Irak, dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah..
Pada kuartal III-2026, Aramco membukukan laba bersih disesuaikan sebesar US$31 miliar atauΒ Rp562,03 triliun (US$1= Rp 18.130) naikΒ 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya..
Selain menghadapi serangan terhadap fasilitasnya, Aramco harus mencari cara agar minyak tetap bisa dikirim ke pelanggan di tengah terganggunya sejumlah jalur perdagangan utama..
Menurut konsultan energi Rystad Energy, jalur tersebut diperkirakan membentang sekitar 1.000 kilometer dengan kebutuhan investasi hingga US$7 miliar, setara sekitar 14% dari anggaran belanja modal tahunan Aramco..
Jumlah tersebut bahkan sudah mendekati volume pada Februari, sebelum perang pecah.
Pipa yang ada sebelumnya telah ditutup sejak Perang Teluk pertama pada 1990. Selain itu, kondisinya terus memburuk selama puluhan tahun…
Bahkan, belanja modal perusahaan selama sembilan bulan pertama 2026 tercatat turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya..
Sementara itu, harga minyak yang diperoleh perusahaan pada kuartal III-2026 mencapai sekitar US$95 per barel..
Menurutnya, kebutuhan untuk mengisi kembali ca, ditambah lagi dengan gan minyak setelah konflik berakhir berpotensi menjaga permintaan tetap tinggi hingga dua tahun setelah tercapainya penyelesaian perang dengan Iran…
Pada 2019, serangan juga menyasar pipa East-West yang mengalirkan minyak ke Laut Merah serta dua fasilitas pengolahan minyak milik perusahaan..
Selain membutuhkan biaya besar, pengembangan jalur ekspor baru juga menghadapi risiko politik kawasan yang masih tidak menentu..
Sejak konflik pecah pada Februari 2026, Aramco mulai mengalihkan lebih banyak pengiriman minyak melalui Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur Teluk Persia..
Di wilayah tersebut, minyak dipindahkan ke kapal milik pelanggan yang enggan melewati jalur berisiko tersebut secara langsung..
Kemampuan Aramco bertahan di tengah konflik juga ditopang oleh biaya produksi yang relatif rendah dibandingkan harga jual minyaknya..
Pada Maret 2022, kelompok Houthi menyerang fasilitas penyimpanan minyak di Jeddah, setelah sebelumnya menyerang kilang minyak di Riyadh pada 2021..
Jakarta, Equityworld Futures – Perang dengan Iran membuat bisnis minyak Arab Saudi menghadapi berbagai tekanan, mulai dari serangan terhadap fasilitas produksi hingga terganggunya jalur pengiriman melalui Selat Hormuz..
Fasilitas penyimpanan minyak Aramco di luar negeri, termasuk Belanda. Tak hanya itu, Korea Selatan, juga membantu perusahaan menjaga kelancaran pasokan. turut berperan penting..
Meski produksi belum kembali ke level sebelum konflik, kenaikan harga minyak, ditambah lagi dengan berbagai upaya mencari jalur ekspor alternatif membantu Aramco menjaga kinerjanya…
Biaya pemulihan fasilitas yang rusak akibat serangan sejauh ini juga masih relatif terbatas.
Menurut International Energy Agency (IEA), biaya pengangkutan minyak dari Teluk Persia menuju Asia telah melonjak lebih dari lima kali lipat dibandingkan sebelum perang..
Hal ini disebabkan oleh gangguan distribusi membuat penggunaan kapal tanker menjadi kurang efisien, akibatnya Kenaikan tersebut terjadi..
Serangan terhadap fasilitas Aramco sebenarnya bukan hal baru.
Meski begitu, kenaikan biaya pengiriman. Tak hanya itu, kebutuhan investasi jalur ekspor baru tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan. turut berperan penting..
Serangan terbaru terhadap pipa East-West turut mengurangi volume minyak yang bisa dikirim menuju Laut Merah..
Kinerja tersebut cukup menarik mengingat perang telah mengganggu aktivitas produksi, ditambah lagi dengan distribusi minyak perusahaan..
Salah satu opsi yang se sekaligus g dipertimbangkan adalah pembangunan pipa dari ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi menuju Duqm, sebuah kawasan pelabuhan di pesisir Oman…
Namun, strategi tersebut kembali menghadapi hambatan ketika kelompok Houthi memblokade jalur selatan melalui Selat Bab al-Mandab pada Juli.
Aramco kemudian mengarahkan kapal-kapalnya ke utara untuk lebih banyak memanfaatkan jaringan pipa Suez-Mediterranean..
Meski demikian, CEO Aramco Amin Nasser menilai investasi pada jaringan pipa dapat memberikan keuntungan dalam waktu relatif cepat, terutama jika harga minyak tetap tinggi. Di samping itu, jalur ekspor di kawasan Teluk masih menghadapi gangguan. juga perlu diperhatikan..
Pada Oktober 2026, Aramco berhasil memasarkan sekitar 7 juta barel minyak per hari, meningkat dari 4,5 juta barel per hari pada Juli..
Pada 2025, biaya kegiatan hulu Aramco, termasuk biaya operasional. Di samping itu, belanja modal, tercatat sekitar US,50 per barel juga perlu diperhatikan..
Sementara itu, kapal yang mengambil minyak dari ujung jaringan pipa Suez-Mediterranean harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk mencapai pelanggan di Asia..
Perkembangan terkait Dikepung Perang – Kilang Dibom, Saudi Aramco Tetap Banjir Cuan! akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Equityworld Futures Surabaya | Ramai Orang Eropa Mulai Meninggalkan Negaranya, Ada Apa?
- Permintaan BBM Bensin Naik 30 Persen Selama Libur Lebaran | Equityworld Futures