0 0
Read Time:4 Minute, 56 Second

Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Adu Kuat Manufaktur ASEAN: RI Kini Kalahkan Vietnam dan Malaysia yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.

Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun aktivitas manufaktur di sebagian besar negara ASEAN mulai membaik, pemulihannya belum berjalan merata..

Ketika empat negara lainnya berada di zona ekspansi, aktivitas pabrik Myanmar masih terus menyusut..

Kondisi tersebut turut berdampak pada tenaga kerja, yang kembali mengalami pengurangan untuk bulan ketiga berturut-turut..

Di tengah persaingan manufaktur ASEAN, Thailand masih mampu mempertahankan posisinya sebagai negara dengan aktivitas industri paling ekspansif..

Kondisi tersebut mulai mendorong perusahaan menaikkan harga jual produk.

Persoalan lainnya datang dari kenaikan biaya produksi, terutama akibat harga bahan bakar, bahan baku,. Tak hanya itu, pergerakan nilai tukar yang kurang menguntungkan. turut berperan penting..

Hal ini disebabkan oleh banyaknya pesanan yang masuk., akibatnya Di sisi lain, pekerjaan yang belum selesai justru terus bertambah..

Pesanan baru yang diterima perusahaan manufaktur meningkat dengan laju tercepat dalam sekitar lima tahun terakhir.

Di sisi lain, Myanmar justru menjadi negara dengan kondisi manufaktur paling lemah dalam perbandingan kali ini..

Sementara itu, Myanmar menjadi satu-satunya negara yang masih mengalami kontraksi..

Bahkan, pertumbuhan pesanan ekspor mencapai rekor tertinggi sejak survei S&P Global dimulai pada April 2011..

Namun, perkembangan tenaga kerja tetap perlu diperhatikan..

Namun, posisi teratas masih ditempati Thailand..

// .

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia dari pasar internasional se. Tak hanya itu, g mengalami peningkatan yang sangat kuat. turut berperan penting..

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menilai peningkatan permintaan memberikan sinyal positif bagi aktivitas industri dalam beberapa bulan mendatang.

Kondisi ini tidak lepas dari banyaknya pesanan baru yang diterima perusahaan, seiring meningkatnya permintaan, ditambah lagi dengan semakin luasnya pasar penjualan…

Lemahnya permintaan, keterbatasan bahan baku, kenaikan biaya produksi, hingga aturan impor yang semakin ketat membuat perusahaan kesulitan menjalankan kegiatan produksinya..

Industri manufaktur Negeri Gajah Putih bahkan sudah berada di zona ekspansi selama 18 bulan berturut-turut..

Bahkan, pertumbuhan pesanan termasuk yang tercepat dalam sekitar empat setengah tahun terakhir..

Jakarta, Equityworld Futures – Industri manufaktur sejumlah negara Asia Tenggara menunjukkan perkembangan yang cukup positif menjelang akhir 2026, di tengah kondisi perekonomian global yang masih menghadapi tekanan akibat konflik Timur Tengah..

Dari lima negara yang dibandingkan, yakni Thailand, Indonesia, Vietnam, Malaysia, sekaligus Myanmar, empat negara mencatatkan ekspansi manufaktur..

Menariknya, perbaikan tersebut bukan hanya berasal dari peningkatan aktivitas produksi..

Akibatnya, persediaan produk jadi mengalami penurunan paling tajam sejak Agustus 2020..

Berdasarkan laporan S&P Global, PMI manufaktur Indonesia naik menjadi 54,0 pada Oktober dari 52,4 pada September..

Sejumlah perusahaan mulai menghadapi keterbatasan tenaga kerja akibat pengunduran diri karyawan, sehingga berdampak pada pekerjaan yang belum selesai semakin menumpuk…

Meski Perusahaan memang masih melakukan perekrutan,, namun pertumbuhannya sangat terbatas. tetap penting..

Namun, meningkatnya aktivitas pabrik juga membawa tantangan tersendiri.

Kondisi tersebut membuat perusahaan meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan..

Sebagai gambaran, PMI merupakan indikator yang mengukur kondisi industri manufaktur berdasarkan survei terhadap perusahaan.

Salah satu persoalannya berasal dari gangguan pasokan bahan baku yang membuat perusahaan kesulitan meningkatkan produksi.

Di tengah persaingan tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang mencatatkan perkembangan paling menarik..

Capaian tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2024, atau dalam 31 bulan terakhir..

Bahkan, pertumbuhan pesanan baru menjadi salah satu yang tercepat sepanjang sejarah survei, sementara aktivitas produksi mencapai laju tertinggi sejak Desember 2025..

Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, se. Selain itu, gkan angka di bawah 50 menandakan kontraksi dibandingkan bulan sebelumnya…

Hal ini terlihat dari laporan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang dirilis S&P Global pada Senin (2/11/2026) untuk periode Oktober 2026..

Salah satu pendorongnya adalah meningkatnya permintaan terhadap produk yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)..

Meskipun industri manufaktur Indonesia tengah menunjukkan perkembangan yang kuat, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan pesanan bisa terus berlangsung sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja..

Meski begitu, ada satu persoalan yang masih perlu diperhatikan..

Selain itu, kenaikan biaya bahan bakar. Di samping itu, transportasi ikut menambah tekanan, sementara permintaan ekspor masih mengalami penurunan. juga perlu diperhatikan..

// .

Untuk memenuhi permintaan tersebut, perusahaan meningkatkan pembelian bahan baku sekaligus menggunakan persediaan barang jadi yang sebelumnya sudah tersedia…

Meningkatnya aktivitas produksi ternyata belum diikuti oleh penambahan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Aktivitas manufaktur dalam negeri mengalami peningkatan cukup tajam, bahkan mencatatkan kenaikan PMI terbesar dibandingkan empat negara ASEAN lainnya..

Permintaan tersebut membantu perusahaan mendapatkan lebih banyak pesanan baru. Di samping itu, kembali meningkatkan produksi juga perlu diperhatikan..

Meski demikian, mahalnya biaya transportasi. Tak hanya itu, bahan baku serta keterlambatan pengiriman masih menjadi tantangan bagi pelaku industri Malaysia. turut berperan penting..

Pabrik-pabrik di dalam negeri mulai menerima lebih banyak pesanan, baik dari pasar domestik maupun luar negeri.

Indonesia berhasil mencatatkan salah satu kinerja manufaktur terkuat di ASEAN, mengungguli Vietnam. Tak hanya itu, Malaysia turut berperan penting..

Berbeda dengan Vietnam, Malaysia justru mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah aktivitas manufakturnya sempat mengalami kontraksi pada September..

Sementara itu, Vietnam masih mampu mempertahankan ekspansi manufaktur selama 16 bulan berturut-turut, meskipun pertumbuhan produksi. Di samping itu, pesanan baru mulai melambat. juga perlu diperhatikan..

Perkembangan terkait Adu Kuat Manufaktur ASEAN: RI Kini Kalahkan Vietnam dan Malaysia akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.


Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.

Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official

Baca juga:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By