Equityworld Jakarta, 17 Maret 2026 – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik puncaknya. Amerika Serikat (AS) dan Israel mengklaim telah melumpuhkan kapasitas militer Iran, menyatakan “kapasitas rudal balistik Iran hancur secara fungsional.” Namun, di saat yang sama, laporan tentang serangan rudal dan drone dari Iran terus berdatangan. Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Israel kembali menjadi target. Lantas, seberapa efektif serangan koalisi AS-Israel, dan bagaimana strategi Iran di tengah gempuran?
Artikel ini akan mengupas tuntas situasi terkini, menganalisis klaim perang, kemampuan rudal Iran yang sebenarnya, serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Klaim Kemenangan vs Realitas di Lapangan
Gedung Putih, melalui juru bicaranya, mendeklarasikan keberhasilan “Operasi Epic Fury” yang diluncurkan sejak 28 Februari lalu. Mereka menyebut dominasi udara penuh telah tercapai dan angkatan laut Iran tidak efektif. Presiden Donald Trump bahkan menambahkan bahwa kapasitas produksi drone Iran juga telah dihancurkan.
Namun, pernyataan ini langsung diuji oleh fakta di lapangan. Dalam beberapa hari terakhir, serangkaian rudal dilaporkan diluncurkan dari Iran:
-
Qatar mengumumkan berhasil mencegat rudal yang datang.
-
Abu Dhabi, UEA menjadi lokasi jatuhnya sebuah rudal yang menewaskan satu orang.
-
Israel kembali membunyikan sirene udara di wilayah tengahnya.
-
UEA juga melaporkan kebakaran di dekat Bandara Internasional Dubai dan kawasan industri Fujairah akibat serangan drone.
Kontradiksi ini menunjukkan bahwa meskipun kapasitas ofensif Iran terdegradasi, mereka masih memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan.
Analisis Kemampuan Rudal Iran: Antara Kuantitas dan Strategi
Para ahli militer dan intelijen memberikan perspektif yang lebih bernuansa di balik klaim perang tersebut.
1. Penurunan Drastis, Bukan Kehancuran Total
Data menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam jumlah serangan Iran. Pentagon mencatat peluncuran rudal turun 90 persen dan serangan drone turun 86 persen dari hari pertama pertempuran. Namun, penurunan ini bukan berarti Iran kehabisan amunisi.
Menurut David Des Roches, profesor di Universitas Pertahanan Nasional AS, perlambatan ini lebih disebabkan oleh hancurnya sistem peluncur, bukan stok rudal itu sendiri. Strategi AS-Israel difokuskan pada perburuan peluncur bergerak Iran. Setiap kali peluncur melesatkan rudal, ia meninggalkan “tanda tangan” yang bisa dilacak dan dihancurkan.
Dari perkiraan 410-440 peluncur yang dimiliki Iran, Israel mengklaim telah melumpuhkan hingga 290 unit. Akibatnya, Iran beralih taktik.
2. Perang Gesekan dan Taktik Asimetris
Alih-alih meluncurkan rentetan besar-besaran ke sasaran militer, Iran kini menembakkan satu atau dua rudal atau drone sekaligus. Targetnya bergeser ke infrastruktur sipil dan komersial di negara-negara Teluk.
-
Hamidreza Azizi (Pakar Iran, Institut Jerman SWB) menyebut ini sebagai strategi “perang gesekan”. Teheran tampaknya menghitung bahwa pertahanan lawan akan habis sebelum stok rudal mereka sendiri benar-benar kosong.
-
Muhanad Seloom (Institut Doha) menambahkan, “Tidak masalah berapa banyak yang Anda luncurkan selama Anda mempertahankan ancaman yang kredibel. Dibutuhkan satu drone yang sukses untuk menghancurkan rasa aman.”
Iran memanfaatkan pengalamannya memproduksi drone murah seperti Shahed 136. Drone ini bisa diproduksi massal dengan cepat di pabrik sederhana dan diluncurkan tanpa peluncur kompleks yang mudah ditargetkan.
Dampak Regional dan Global: Harga Minyak dan Rasa Aman
Meskipun serangan berkurang, dampak psikologis dan ekonominya justru membesar. Strategi perang asimetris Iran berhasil menciptakan ketidakstabilan yang melumpuhkan:
-
Gangguan Ekonomi: Rasa takut akan serangan telah melumpuhkan ratusan kapal di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui 20 persen pasokan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak melonjak di atas $100 per barel.
-
Ekspor Terhambat: Eksportir gas terbesar kedua dunia, Qatar, terpaksa menutup produksinya. Perusahaan minyak Bahrain menyatakan force majeure, dan produksi minyak Irak selatan anjlok 70 persen.
-
Keamanan Penerbangan Terganggu: Insiden di dekat Bandara Dubai memicu gangguan penerbangan, menunjukkan bahwa ancaman sudah berada di depan pintu rumah warga sipil.
Vali Nasr, profesor di Universitas Johns Hopkins, berpendapat, “Jika Iran dapat terus menaikkan harga minyak global, itu akan menimbulkan kerusakan yang sama atau lebih besar pada AS daripada bom Amerika di Iran.”
Kesimpulan: Siapa yang Memenangkan Perang?
Klaim AS dan Israel tentang kehancuran total militer Iran terbukti berlebihan. Memang, kapasitas ofensif konvensional Iran telah terdegradasi parah. Mereka tidak lagi mampu meluncurkan serangan besar-besaran.
Namun, Iran telah beradaptasi. Dengan desentralisasi komando, fokus pada peluncur bergerak, dan andalan pada senjata murah seperti drone, mereka berhasil mempertahankan ancaman yang konstan. Perang ini telah berevolusi menjadi perang gesekan di mana Iran menggunakan satu-satunya aset yang masih dimilikinya: kemampuan untuk membuat kawasan dan pasar energi global terus berada dalam ketidakpastian.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang siapa yang “memenangkan” perang mungkin tidak relevan. Yang jelas, Timur Tengah telah memasuki fase baru konflik yang ditandai dengan serangan yang lebih jarang, namun dampaknya jauh lebih luas dan dalam, terutama terhadap ekonomi global.
Ditulis Oleh: Andrie Wijayanto, Surabaya 17 Maret 2026, 16:44 WIB