Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Mata Uang Asia Kebakaran: Rupiah Paling Buruk, 3 Negara Selamat yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Kenaikan yield terjadi setelah harga minyak kembali melonjak. Tak hanya itu, perang dagang global kembali memunculkan kekhawatiran inflasi. turut berperan penting..
Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling besar pada pagi ini.
Lonjakan pada harga energi dunia turut menjadi pengaruh utama.
Pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan akan memberlakukan tarif baru sebesar 10%, ditambah lagi dengan 12,5% terhadap barang dari 60 mitra dagang..
Sementara itu, yield tenor 30 tahun masih bertahan di atas 5%..
Leonard Kwan, fixed-income portfolio manager T.
Pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026) harga minyak acaun Brent kembali naik di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei..
Posisi ini membuat rupiah kembali bergerak sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$..
Penyebab utamanya adalah pada dasarnya minyak adalah tarif,” ujar Varathan, dikutip dari Reuters.,. Akibatnya, “Dunia harus bersiap menghadapi pukulan ganda dari tarif, terjadi…
Peso Filipina terkoreksi 0,10% ke PHP 61,792/US$, sementara yuan China turun 0,08% ke CNY 6,775/US$..
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,06% ke posisi 101,383 pada pagi ini. Meski bergerak turun tipis,DXY diperdagangan sebelumnya berhasil menguat tajam 0,32% sekaligus membawa DXY ke level tertinggnya dalam tiga pekan terakhir. .
“Menghapus forward gui. Tak hanya itu, ce atau mengurangi forward guidance, menurut kami, adalah bentuk pengetatan kondisi keuangan tanpa benar-benar harus menaikkan suku bunga,” ujar Kwan, dikutip dari Reuters. turut berperan penting..
for Asia-Pacific Mizuho, menilai dunia kini menghadapi dua tekanan sekaligus dari minyak. Di samping itu, tarif. juga perlu diperhatikan..
Tekanan terjadi ditengah dinamika dolar AS di pasar global jelang akhir pekan..
Yield tenor 10 tahun sempat naik ke atas 4,7%, level tertinggi dalam lebih dari 18 bulan.
Kondisi ini membuat imbal hasil Treasury AS naik.
Serangan ini memperluas risiko perang Timur Tengah ke jalur pelayaran energi penting lainnya, setelah sebelumnya pasar juga mencermati gangguan di Selat Hormuz..
Di sisi lain, won Korea Selatan justru mampu tampil positif hingga menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia.
Kenaikan harga minyak dipicu serangan kelompok Houthi Yaman terhadap dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah.
Penguatan tersebut ditopang oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Investor kini menanti agenda bank sentral besar pada pekan depan, termasuk bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Won menguat 0,77% ke posisi KRW 1.463,5/US$..
Adapun baht Thailand bergerak stagnan di posisi THB 33,80/US$..
Rowe Price, menilai sikap The Fed yang mengurangi forward gui sekaligus ce juga dapat memperketat kondisi keuangan tanpa harus langsung menaikkan suku bunga…
Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar kembali lebih menarik bagi investor.
Dolar Taiwan juga masuk zona merah setelah melemah 0,04% ke posisi TWD 32,312/US$, disusul dong Vietnam yang terkoreksi tipis 0,03% ke VND 26.322/US$..
Jakarta, Equityworld Futures – Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Di sisi lain, tekanan inflasi juga bertambah dari kebijakan tarif AS.
// .
Tekanan inflasi yang meningkat membuat arah kebijakan suku bunga AS kembali menjadi perhatian utama pasar..
Dolar Singapura juga menguat 0,06% ke SGD 1,292/US$, sementara yen Jepang naik 0,05% ke posisi JPY 163,76/US$.
Rupiah Garuda melemah 0,48% ke posisi Rp17.975/US$.
Merujuk data Refinitiv pada perdagangan Jumat (24/7/2026) per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak enam mata uang melemah terhadap dolar AS, tiga mata uang menguat,, ditambah lagi dengan satu mata uang stagnan…
Tekanan juga terlihat pada mata uang tetangga, ringgit Malaysia yang melemah 0,12% ke posisi MYR 4,092/US$.
Dolar AS pun tetap mendapat dukungan, meski pagi ini DXY bergerak sedikit melemah..
Kebijakan ini datang saat tarif global sementara sebesar 10% akan berakhir..
Perkembangan terkait Mata Uang Asia Kebakaran: Rupiah Paling Buruk, 3 Negara Selamat akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Equityworld Futures Surabaya | Yen Ambles ke Level Terendah Sejak 1986, Kenapa Jepang Berdarah-darah?
- Di Balik Gelar Agung Ayatulloh: Siapa Saja yang Berhak Menyandangnya? | Equityworld Futures