0 0
Read Time:5 Minute, 33 Second

Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Yen Ambles ke Level Terendah Sejak 1986, Kenapa Jepang Berdarah-darah? yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.

Bank of Japan (BOJ) sebenarnya sudah berusaha menopang yen dengan meninggalkan era bunga negatif sekaligus menaikkan suku bunga acuannya hingga 1%..

Nilai impor yang masih lebih besar dibandingkan ekspor ikut menambah tekanan terhadap yen.

Inflasi inti tanpa makanan segar tercatat 1,4%, se sekaligus gkan inflasi tanpa makanan segar dan energi berada di 1,8%…

Namun, langkah itu belum cukup untuk membalikkan pelemahan yen.

Dolar biasanya mendapat keuntungan ketika ketidakpastian geopolitik meningkat.

Pertumbuhan uang beredar juga masih lemah.

Namun, jika kenaikan bunga dihentikan, selisih bunga dengan AS tetap lebar, ditambah lagi dengan yen berpotensi terus melemah…

Hal ini disebabkan oleh transaksi energi global masih banyak menggunakan dolar., akibatnya Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak juga cenderung ikut mengangkat mata uang AS..

Di sisi lain, BOJ juga tidak bisa menaikkan bunga secara agresif.

Inflasi Jepang mulai melambat, dengan inflasi utama sebesar 1,5% secara tahunan pada Mei 2026.

Selisih bunga yang masih lebar membuat investor tetap tertarik meminjam yen dengan biaya murah, kemudian menempatkan sekaligus anya pada aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi..

Ekspor Jepang tercatat tumbuh selama 10 bulan berturut-turut.

Jepang meningkatkan pembelian dari pemasok alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz yang masih terganggu konflik..

BOJ akhirnya berada dalam posisi serba sulit.

Data BOJ menunjukkan M2 hanya tumbuh 2,2% secara tahunan pada Juni 2026, melambat dari 2,4% pada Mei.

Defisitnya juga jauh lebih besar dibandingkan perkiraan pasar yang hanya sebesar 120 miliar yen. Di samping itu, menjadi defisit perdagangan bulanan kedua secara beruntun. juga perlu diperhatikan..

// .

Namun, lonjakan ekspor belum mampu mengimbangi kenaikan impor yang lebih besar.

Neraca perdagangan Jepang kembali mencatat defisit pada Juni 2026.

Pergerakan yen yang terus melemah membuat pelaku pasar kembali mencermati kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing..

Pasukan AS telah memasuki malam ke-11 serangan beruntun terhadap Iran, mendorong investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman..

Kenaikannya ditopang pengiriman semikonduktor. Di samping itu, perangkat elektronik ke China, serta ekspor mobil ke sejumlah negara, termasuk Uni Eropa. juga perlu diperhatikan..

Strategi ini dikenal sebagai carry trade..

Jakarta, Equityworld Futures – Yen Jepang kembali terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bahkan kembali menyentuh posisi terlemah dalam hampir empat dekade..

Kenaikan tersebut menjadi yang paling tinggi sejak November 2022.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski suku bunga sudah naik, aliran uang ke rumah tangga sekaligus dunia usaha belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan inflasi secara berkelanjutan…

Kebutuhan dolar yang tetap tinggi membuat yen semakin sulit bangkit, terlebih ketika harga energi naik sekaligus selisih suku bunga Jepang dengan AS masih lebar…

Perusahaan Jepang membutuhkan lebih banyak mata uang asing, terutama dolar AS, untuk membayar barang. Tak hanya itu, energi dari luar negeri. turut berperan penting..

Suku bunga Jepang masih jauh lebih rendah dibandingkan bunga acuan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang berada di kisaran 3,50%-3,75%..

Kenaikan harga minyak dunia. Tak hanya itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat greenback semakin menarik bagi investor. turut berperan penting..

Impor Jepang melonjak 25,4% secara tahunan menjadi 11,34 triliun yen, sekaligus mencetak rekor tertinggi.

// .

Pertumbuhannya juga menjadi yang paling kuat sejak November 2022. Selain itu, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 18,6%…

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, impor minyak mentah Jepang dari kawasan Timur Tengah turun 26,4% menjadi 47,31 juta kiloliter.

Mata uang negeri Matahari Terbit itu masih bergerak di sekitar JPY163,21/US$ pada pagi ini, Rabu (22/7/2026)..

Impor minyak mentah bahkan melonjak 59,3%.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS belakangan ini juga semakin memperbesar daya tarik aset dolar..

Konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut juga ikut menopang dolar.

Meski volume impor minyak dari Timur Tengah menurun, total nilai impor Jepang tetap meningkat 10,7% secara tahunan menjadi 61,67 triliun yen.

Jika bunga kembali dinaikkan, ekonomi domestik berisiko semakin tertekan.

Tekanan terutama datang dari impor yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor..

Seluruh angka tersebut berada di bawah target inflasi BOJ sebesar 2%.

Posisi tersebut berbalik dari surplus 122,3 miliar yen pada Juni 2025.

Sementara itu, ekspor semester I tumbuh 13,7% menjadi 60,66 triliun yen.

Pemerintah Jepang bergerak mencari sumber pasokan lain setelah serangan AS. Selain itu, Israel terhadap Iran pada akhir Februari…

Tekanan terhadap yen terjadi ketika dolar AS kembali menguat di pasar global.

Di sisi lain, ekspor meningkat 19,3% menjadi 10,93 triliun yen, posisi tertinggi dalam tiga bulan.

Krisis di Timur Tengah sekaligus gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz ikut memengaruhi arus impor Jepang, terutama pasokan energi…

Secara keseluruhan, Jepang membukukan defisit perdagangan sebesar 1,01 triliun yen atau sekitar US$6,2 miliar sepanjang semester I-2026..

Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 1995..

Pertumbuhannya melaju dari 12,5% pada Mei, ditambah lagi dengan melampaui perkiraan pasar sebesar 21%…

Selama keuntungan memegang aset dolar masih lebih besar, permintaan terhadap dolar akan tetap kuat sekaligus yen sulit bangkit..

Permintaan domestik yang tetap kuat, setelah pemerintah meluncurkan stimulus pada akhir 2025, ikut mendorong masuknya barang dari luar negeri..

Berdasarkan data Refinitiv, yen ditutup melemah tajam 0,41% ke posisi JPY163,16/US$ pada Selasa (21/6/2026).

Level tersebut menjadi yang terlemah sejak Desember 1986..

Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Jepang kembali berada di zona defisit..

Pelemahan yen. Tak hanya itu, tingginya permintaan terhadap cip terkait kecerdasan buatan ikut menopang ekspor, meski konflik Iran masih mengganggu rantai pasok. turut berperan penting..

Kenaikan terutama berasal dari impor logam nonferrous. Tak hanya itu, telepon pintar. turut berperan penting..

Defisit perdagangan mencapai 406,9 miliar yen..

Kenaikan bunga yang terlalu cepat dikhawatirkan justru menekan konsumsi, investasi, sekaligus kegiatan usaha di Jepang…

// .

Perkembangan terkait Yen Ambles ke Level Terendah Sejak 1986, Kenapa Jepang Berdarah-darah? akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.


Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.

Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official

Baca juga:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By