0 0
Read Time:3 Minute, 56 Second

Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait BI Agresif Serap Likuiditas, Outstanding SRBI Tembus Rp1.072 Triliun yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.

Pada Mei 2026, posisi kepemilikan nonresiden masih sebesar Rp216,48 triliun..

Sementara itu, perbankan tetap menjadi pemegang SRBI terbesar dengan nilai Rp615,71 triliun atau sekitar 57,4% dari total outstanding.

Selain itu, kepemilikan dalam kelompok lainnya juga mengalami kenaikan tajam.

Kepemilikan asing bertambah Rp76,68 triliun atau 35,42% hanya dalam sebulan.

Dalam satu bulan, imbal hasil instrumen tersebut melonjak lebih dari 60 basis poin pada seluruh tenor..

Naiknya outstanding SRBI hingga akhir Juni 2026 berjalan seiring dengan kenaikan yield yang ditawarkan.

Namun demikian, pada lelang terbaru 17 Juli 2026, yield SRBI mulai bergerak turun.

Repo atau repurchase agreement merupakan transaksi ketika pemegang SRBI menjual surat berharga tersebut kepada BI dengan kesepakatan untuk membelinya kembali pada waktu. Selain itu, harga yang telah ditentukan…

Setelah periode repo berakhir, pemegang instrumen membeli kembali SRBI sesuai kesepakatan..

Jika dibandingkan dengan Juni 2025 yang sebesar Rp190,06 triliun, kepemilikan asing telah melonjak Rp103,10 triliun atau 54,25%..

Secara keseluruhan, yield SRBI meningkat sekitar 63,8-78,1 basis poin dalam sebulan.

Sementara itu, yield tenor 12 bulan naik dari 6,919% menjadi 7,700%..

Melansir data di situs resmi BI, total outstanding SRBI mencapai Rp1.072,62 triliun hingga akhir Juni 2026.

// .

Jakarta, Equityworld Futures – Bank Indonesia (BI) semakin aktif menggunakan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam operasi moneternya.

Jumlah tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sejak SRBI pertama kali diterbitkan pada September 2023..

Meningkat Rp92,74 triliun atau 9,46% dibandingkan Mei 2026 yang sebesar Rp979,88 triliun.

Kepemilikan nonresiden juga mencakup hampir 84% dari total kepemilikan kelompok nonbank yang mencapai Rp349,76 triliun..

Kenaikan outstanding SRBI juga diikuti lonjakan kepemilikan nonresiden atau investor asing..

Melalui transaksi tersebut, pemegang SRBI memperoleh sekaligus a tunai dari BI dengan menyerahkan SRBI untuk sementara waktu..

Nilainya melonjak dari Rp41,55 triliun pada Mei menjadi Rp107,15 triliun di Juni..

Pada Juni 2026, kepemilikan nonresiden di SRBI mencapai Rp293,16 triliun, menjadi posisi tertinggi sejak instrumen tersebut diterbitkan.

Investor asing kini menguasai sekitar 27,33% dari keseluruhan outstanding SRBI.

Yield tenor enam bulan turun menjadi 7,224%, se. Tak hanya itu, gkan tenor sembilan bulan dan 12 bulan masing-masing menjadi 7,420% dan 7,644%. turut berperan penting..

Nilai outstanding instrumen tersebut bahkan telah menembus Rp1.000 triliun..

SRBI merupakan surat berharga berdenominasi rupiah yang diterbitkan BI dengan menggunakan Surat Berharga Negara (SBN) milik bank sentral sebagai aset dasar atau underlying.

Instrumen ini dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Tak hanya itu, digunakan BI sebagai instrumen operasi moneter kontraksi untuk menyerap likuiditas rupiah. turut berperan penting..

Secara tahunan, nilainya melonjak Rp289,65 triliun atau 37% dari posisi Juni 2025 sebesar Rp782,97 triliun..

Lonjakan kepemilikan nonresiden memperlihatkan bahwa daya tarik SRBI di mata investor global masih kuat.

// .

Rekor sebelumnya tercatat pada Oktober 2024 sebesar Rp262,17 triliun..

Kenaikan terbesar terjadi pada tenor 12 bulan yang mencapai 78,1 basis poin..

Tingginya yield SRBI menjadi salah satu kompensasi atas risiko nilai tukar tersebut..

Berdasarkan hasil lelang 26 Juni 2026, yield SRBI tenor enam bulan tercatat sebesar 7,360%, naik dari 6,722% pada lelang terakhir Mei..

Yield tenor sembilan bulan meningkat dari 6,763% menjadi 7,540%.

Namun, jumlah tersebut turun Rp62,18 triliun atau 9,17% dibandingkan bulan sebelumnya..

Yield yang tinggi memberikan ruang imbal hasil lebih besar, se. Tak hanya itu, gkan kebijakan stabilisasi BI membantu meredam risiko dari pergerakan rupiah. turut berperan penting..

BI memberikan catatan bahwa kelompok lainnya merupakan SRBI yang se sekaligus g berada dalam transaksi repo kepada Bank Indonesia (SRBI under repo to Bank Indonesia)…

Penyebab utamanya adalah dapat mengurangi keuntungan investor asing setelah dikonversikan ke mata uang asal, sehingga berdampak pada Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi pertimbangan terjadi…

Perkembangan terkait BI Agresif Serap Likuiditas, Outstanding SRBI Tembus Rp1.072 Triliun akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.


Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.

Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official

Baca juga:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By