0 0
Read Time:4 Minute, 6 Second

Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait RI Terbelah! BI Rate Perlu Naik Lagi atau Saatnya Berhenti? yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.

Ia memperkirakan BI kembali menaikkan bunga sebesar 25 bps untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran sekaligus menahan pelemahan rupiah lebih lanjut..

Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama mayoritas ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga..

Inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari 3,08% pada Mei..

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi bank sentral untuk menunggu perkembangan rupiah, arus modal,, ditambah lagi dengan harga energi sebelum kembali menaikkan suku bunga…

Pelemahan tersebut terjadi ketika dolar AS masih cukup kuat di pasar global seiring dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat.

Pelemahan rupiah. Selain itu, kenaikan harga energi global berisiko menambah tekanan harga melalui barang impor, bahan baku, transportasi, serta biaya produksi..

Jakarta, Equityworld Futures – Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21-22 Juli 2026.

Posisi ini membuat rupiah masih berjuang keras untuk menjauh dari level psikologisnya di Rp18.000/US$..

Tekanan terhadap rupiah, ditambah lagi dengan risiko kenaikan inflasi menjadi pertimbangan utama…

Sejalan dengannya, Chief Economist Valbury Asia Futures Fikri C.

Inflasi memang masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% plus-minus 1%.

Sebanyak delapan responden memproyeksikan BI Rate naik 25 basis poin (bps), dari 5,75% menjadi 6,00%.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan suku bunga dapat digunakan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik.

Selain rupiah, perkembangan inflasi turut memperkuat perkiraan kenaikan suku bunga.

// .

Meski demikian, sebagian menilai BI perlu memberi waktu agar kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei bekerja terhadap pasar keuangan, ditambah lagi dengan perekonomian…

Namun, tekanan tersebut belum tentu harus direspons dengan kenaikan bunga pada Juli, terlebih bunga kredit mulai meningkat, ditambah lagi dengan aktivitas manufaktur melemah…

Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menilai BI tetap berfokus menjaga rupiah sekaligus stabilitas keuangan di tengah ketegangan geopolitik serta pengetatan moneter global..

Melansir Refinitiv, mata uang Garuda masih mengalami tekanan dengan ditutup melemah 0,25% ke posisi Rp17.930/US$ pada perdagangan Senin (20/7/2026), atau melemah 7,53% sejak awal tahun (year-to-date/ytd)..

Kenaikan suku bunga dapat membantu menahan tekanan tersebut melalui stabilisasi nilai tukar sekaligus pengendalian ekspektasi inflasi…

// .

Sementara itu, enam lainnya memperkirakan suku bunga akan dipertahankan..

Konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak. Di samping itu, menambah risiko terhadap inflasi serta kebutuhan valuta asing. juga perlu diperhatikan..

Selisih imbal hasil yang tetap kompetitif diharapkan dapat menahan keluarnya modal asing sekaligus membantu meredam tekanan terhadap rupiah…

“Faktornya adalah volatilitas rupiah yang masih cukup besar, ekspektasi kenaikan Fed Rate tahun ini yang makin besar, serta dorongan untuk meningkatkan daya tarik aset portofolio domestik,” ujar Fikri..

Hasil polling Equityworld Futures terhadap 14 institusi sekaligus lembaga menunjukkan mayoritas responden memperkirakan BI kembali menaikkan suku bunga acuannya…

// .

Chief Economist Bank. Tak hanya itu, amon Hosianna Evalita Situmorang menyampaikan proyeksi serupa turut berperan penting..

“BI Rate diperkirakan naik 25 bps ke 6,00% untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah risiko geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah,” ujarΒ Ekonom CIMB Niaga Mika Martumpal kepada Equityworld Futures..

Namun, posisinya sudah mendekati batas atas sasaran sebesar 3,5%..

BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei hingga mencapai 5,75% pada Juni..

Selain volatilitas rupiah, BI perlu mengantisipasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter global lebih lanjut..

Kenaikan tambahan hanya diperlukan jika tekanan rupiah, ditambah lagi dengan arus modal memburuk secara nyata,” ujar Josua…

// .

Inflasi yang meningkat juga belum keluar dari sasaran BI.

Karena itu, keputusan menahan bunga dengan komunikasi yang tegas dinilai lebih tepat selama pergerakan rupiah masih dapat dikendalikan..

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai level BI Rate sebesar 5,75% sudah cukup ketat.

“Skenario dasar RDG Juli adalah BI menahan BI Rate di 5,75% dengan pesan kebijakan yang tetap waspada.

Jika proyeksi mayoritas responden terwujud, kenaikan bulan ini akan menjadi pengetatan keempat BI sepanjang 2026.

Permana juga melihat kenaikan bunga masih dibutuhkan.

Perkembangan terkait RI Terbelah! BI Rate Perlu Naik Lagi atau Saatnya Berhenti? akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.


Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.

Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official

Baca juga:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By