Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Neraca Dagang RI Tekor: Batu Bara dan Sawit Jadi Biang Kerok yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
// .
// .
Nilainya meningkat dari US$2,75 miliar pada April 2026 menjadi US$3,04 miliar pada Mei 2026, atau naik 10,49% secara bulanan.
Namun, ada konsekuensi lain yang perlu dicermati.
Artinya, porsi campuran bahan bakar nabati berbasis sawit dalam solar naik dari 40% menjadi 50%..
BPS mencatat nilai ekspor Mei 2026 sebesar USturun 5,73% dibandingkan Mei 2025.3,20 miliar, turun 8,30% dibandingkan April 2026 sekaligus turun 5,73% dibandingkan Mei 2025…
Di sisi lain, ekspor Indonesia juga mengalami penurunan.
Kenaikan ini terutama berasal dari impor hasil minyak yang melonjak 99,49% secara tahunan menjadi US$3,81 miliar..
Ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok, yang merupakan pasar ekspor terbesar RI, turun dari US$6,26 miliar pada April 2026 menjadi US$5,78 miliar pada Mei 2026.
Artinya, ada penurunan sekitar US$474,8 juta dalam satu bulan..
Tidak hanya itu, defisit Mei 2026 juga menjadi yang terdalam sejak April 2019.
BPS mencatat impor migas Mei 2026 naik 70,78% secara tahunan menjadi US$4,51 miliar.
Namun, tekanan ekspor juga terlihat pada golongan barang besi. Tak hanya itu, baja atau HS 72 turut berperan penting..
Penyebab utama defisit neraca dagang Mei 2026 datang dari nilai impor yang melonjak tinggi secara tahunan.
Alasannya adalah nilai ekspor tercatat US,20 miliar, sementara impor mencapai US,81 miliar. sehingga berdampak pada Defisit terjadi…
Pemerintah menaikkan mandatori biodiesel dari B40 menjadi B50 mulai 1 Juli 2026.
Jika dibandingkan Mei 2025, ekspor besi. Di samping itu, baja juga turun lebih dalam, yakni 14,68%. juga perlu diperhatikan..
Kenaikan impor bahan baku/penolong menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat.
Nilai ekspor besi sekaligus baja turun dari USbaja turun dari US$2,50 miliar pada April 2026 menjadi US$2,39 miliar pada Mei 2026, atau melemah 4,54% secara bulanan,50 miliar pada April 2026 menjadi USbaja turun dari US$2,50 miliar pada April 2026 menjadi US$2,39 miliar pada Mei 2026, atau melemah 4,54% secara bulanan,39 miliar pada Mei 2026, atau melemah 4,54% secara bulanan..
Artinya, tekanan impor masih kuat jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu..
Pada periode tersebut, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar US$2,33 miliar..
Impor bahan baku/penolong naik 25,17% secara tahunan menjadi US$17,58 miliar, barang konsumsi naik 21,99% menjadi US$2,23 miliar, sementara barang modal naik 12,70% menjadi US$5,00 miliar..
Selain itu, penurunan besar juga terjadi pada ekspor ke India.
Ba, ditambah lagi dengan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit USBa,61 miliar..
Lonjakan impor terutama didorong oleh impor migas.
Nilainya tercatat USturun 4,50% secara tahunan.2,45 miliar pada Mei 2026, turun 7,05% secara bulanan. Selain itu, turun 4,50% secara tahunan…
BPS mencatat ekspor lemak. Selain itu, minyak hewani/nabati atau HS 15 menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026..
Secara bulanan, penurunannya mencapai 26,85%.
Tekanan ekspor juga terlihat dari sisi negara tujuan utama.
Sebagai contoh, batu bara.. sering terjadi ketika Kelompok lemak. Selain itu, minyak hewani/nabati mencakup CPO atau minyak sawit dan produk turunannya, sedangkan bahan bakar mineral mencakup komoditas..
Kondisi tersebut membuat biaya impor energi Indonesia ikut membesar, terutama untuk kebutuhan BBM sekaligus hasil minyak…
Secara kumulatif, ekspor bahan bakar mineral pada Januari-Mei 2026 melambat atau hanya naik tipis 0,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya..
Dari sisi penggunaan barang, kenaikan impor juga terlihat merata.
Secara tahunan, ekspor kelompok ini juga turun 14,23%..
// .
Dengan demikian, tren surplus neraca dagang Indonesia selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020 resmi patah..
Nilainya anjlok dari US$3,07 miliar pada April 2026 menjadi US$2,24 miliar pada Mei 2026.
Salah satu tekanan yang perlu diperhatikan dari sisi sawit adalah meningkatnya kebutuhan di dalam negeri untuk program biodiesel.
Perlambatan ini bisa berkaitan dengan penyesuaian Rencana Kerja. Di samping itu, Anggaran Biaya atau RKAB batu bara 2026 yang diturunkan. juga perlu diperhatikan..
Kementerian ESDM sebelumnya menyebut target produksi batu bara nasional 2026 dipangkas ke kisaran 600 juta ton, lebih rendah dibanding realisasi produksi 2025 yang mencapai sekitar 790 juta ton..
Dalam struktur ekspor nonmigas Indonesia, dua kelompok komoditas terbesar adalah lemak, ditambah lagi dengan minyak hewani/nabati serta bahan bakar mineral..
Kenaikan ini tetap besar meskipun secara bulanan impor turun tipis 1,59% dibandingkan April 2026.
Dalam skema ini, perusahaan batu bara perlu memastikan pasokan untuk kebutuhan domestik terlebih dahulu sebelum ekspor..
Catatan ini menjadi defisit pertama sejak April 2020.
Nilainya turun dari US$2,88 miliar pada April 2026 menjadi US$2,56 miliar pada Mei 2026, atau berkurang sekitar US$320,8 juta..
Namun, kenaikan tersebut belum cukup menunjukkan penguatan yang solid sepanjang tahun berjalan.
Nilainya mencapai US$14,06 miliar, dengan kontribusi 12,76% terhadap total ekspor nonmigas..
// .
Berbeda dengan CPO, ekspor bahan bakar mineral justru masih naik pada Mei 2026.
Nilainya turun dari US$1,64 miliar menjadi US$1,29 miliar, atau menyusut sekitar US$353,7 juta secara bulanan..
Tekanan juga terlihat pada ekspor nonmigas.
Selain itu, pemenuhan kebutuhan dalam negeri melalui kebijakan domestic market obligation atau DMO batu bara juga bisa ikut membatasi ruang ekspor.
Nilainya mencapai US$11,42 miliar, dengan kontribusi 10,37% terhadap total ekspor nonmigas..
Kenaikan impor migas ini sejalan dengan harga minyak dunia yang sempat terdongkrak akibat konflik di Timur Tengah.
Ekspor ke Amerika Serikat juga ikut melemah.
Padahal, besi. Tak hanya itu, baja merupakan penyumbang terbesar ketiga ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 turut berperan penting..
Kebijakan ini memang diarahkan untuk menekan ketergantungan terhadap impor BBM, terutama solar.
Semakin besar kebutuhan sawit untuk biodiesel di dalam negeri, semakin besar pula potensi pasokan CPO sekaligus turunannya yang terserap untuk pasar domestik,. Akibatnya, ruang ekspor bisa ikut berkurang….
Jakarta, Equityworld Futures – Neraca perdagangan Indonesia kembali masuk zona merah setelah enam tahun bertahan di posisi surplus..
Namun, pada saat yang sama, tingginya kebutuhan impor energi sekaligus bahan baku membuat neraca dagang lebih mudah tertekan ketika ekspor tidak mampu mengimbanginya…
Sementara itu, kelompok bahan bakar mineral atau HS 27 menjadi penyumbang terbesar kedua ekspor nonmigas Indonesia.
Namun pada Mei 2026, ekspor kelompok ini turun tajam.
Nilainya mencapai US$13,18 miliar sepanjang Januari-Mei 2026, dengan kontribusi 11,96% terhadap total ekspor nonmigas..
Secara tahunan, ekspor kelompok ini juga naik 15,31%..
BPS mencatat impor Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$24,81 miliar, naik 22,16% dibandingkan Mei 2025..
Perkembangan terkait Neraca Dagang RI Tekor: Batu Bara dan Sawit Jadi Biang Kerok akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Equityworld Futures Surabaya | Pemerintah Beri Potongan Pajak untuk Penulis
- Survei: Rating Trump Jatuh ke Titik Terendah, Negatif di Semua Isu | Equityworld Futures