Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait 5 Tahun Taliban Kuasai Afghanistan: Aman, Tapi Rakyat Makin Miskin yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Setelah puluhan tahun dilanda perang. Tak hanya itu, serangan bom, sejumlah kota kini jauh lebih tenang. turut berperan penting..
Aparat keamanan bertindak keras terhadap aksi penentangan.
Sejumlah sekolah agama atau madrasah kemudian menjadi jalan alternatif bagi sebagian perempuan untuk tetap belajar.
Lima tahun setelah kembali berkuasa, Taliban berhasil mencapai satu hal penting yakni Afghanistan relatif lebih aman setelah puluhan tahun perang..
Namun, stabilitas tersebut harus dibayar mahal dengan kemiskinan, keterasingan dari dunia internasional, serta pembatasan kebebasan yang semakin ketat..
Ekonomi masih lemah, bantuan asing menyusut, kemiskinan tinggi, layanan kesehatan tertekan, sementara hak-hak perempuan semakin dibatasi..
Namun, para siswi tetap menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan mereka..
Salah satu perubahan terbesar adalah tingkat keamanan.
Bendera Taliban terlihat di berbagai kota, la sekaligus g, pos pemeriksaan hingga kantor pemerintahan dan universitas…
Banyak dari mereka kembali tanpa uang. Di samping itu, pekerjaan, semakin membebani sumber daya negara. juga perlu diperhatikan..
Itu bukan impian kami,” kata seorang siswi..
Kemiskinan juga masih menjadi persoalan utama.
Pada 15 Agustus 2021, Taliban kembali merebut Kabul setelah 20 tahun berperang melawan pemerintah Afghanistan sekaligus sekutunya, termasuk Amerika Serikat…
Afghanistan juga menghadapi tekanan tambahan akibat sekitar 6 juta warga Afghanistan yang dipulangkan secara paksa dari Pakistan. Di samping itu, Iran juga perlu diperhatikan..
Jakarta, Equityworld Futures – Tepat lima tahun setelah Taliban kembali menguasai Kabul, Afghanistan memang menjadi lebih tenang.
Taliban juga berhasil menekan aktivitas ISIS-K. Selain itu, Al-Qaeda di Afghanistan…
// .
Sebagian proyek perumahan dibiayai diaspora Afghanistan untuk keluarga mereka yang masih tinggal di dalam negeri..
Bagi banyak warga Afghanistan, lima tahun sudah cukup lama untuk menunggu perubahan..
Pemerintah bahkan mengalokasikan sekitar separuh penerimaannya untuk keamanan, sementara belanja kesehatan. Di samping itu, kesejahteraan dipangkas. juga perlu diperhatikan..
“Kami punya perdamaian,. Akan tetapi kantong kami kosong,” ujar seorang tetua desa menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat, dikutip dari The Economist. tidak boleh diabaikan..
Di Kabul, pelebaran jalan sekaligus pembangunan rumah juga meningkat..
Namun, Taliban masih kesulitan menarik investasi asing terjadi karena Afghanistan tetap terisolasi dari sistem keuangan global. Di samping itu, sebagian pejabatnya masih dikenai sanksi internasional.. juga perlu diperhatikan..
“Kami tidak ingin menunggu lagi,” ujar seorang siswi Afghanistan..
Di tengah stabilitas keamanan, kondisi ekonomi Afghanistan masih jauh dari sejahtera..
Secara fiskal, pemerintah Taliban sebenarnya berhasil meningkatkan penerimaan negara..
Bank Dunia memperkirakan pemerintah Afghanistan kini mengumpulkan sekitar US miliar atau sekitar Rp 72 triliun (USBank Dunia memperkirakan pemerintah Afghanistan kini mengumpulkan sekitar US$4 miliar atau sekitar Rp 72 triliun (US$1= Rp 18.000) dari pajak= Rp 18.000) dari pajak. Tak hanya itu, penerimaan lainnya setiap tahun, hampir 60% lebih tinggi dibandingkan 2020. turut berperan penting..
Salah satu kebijakan Taliban yang paling kontroversial adalah larangan pendidikan menengah bagi anak perempuan..
Dalam sebuah demonstrasi perempuan di Herat pada Juni lalu, sejumlah peserta dipukuli. Selain itu, seorang remaja perempuan dilaporkan tewas ditembak…
Warga Afghanistan juga merasakan manfaat dari kondisi tersebut.
Petani lebih mudah membawa hasil panen ke pasar, perjalanan antarkota menjadi lebih aman,. Selain itu, anak-anak dapat pergi ke sekolah meski akses pendidikan bagi perempuan sangat dibatasi…
Dengan populasi sekitar 45 juta jiwa, hampir dua pertiga di antaranya bahkan belum lahir ketika perang dimulai pada 2001, Afghanistan kini menghadapi tantangan besar: bagaimana mengubah stabilitas keamanan menjadi pertumbuhan ekonomi, ditambah lagi dengan kesejahteraan…
Perang tersebut dimulai pada 2001 ketika AS menggulingkan pemerintahan Taliban terjadi karena rezim tersebut memberikan perlindungan kepada kelompok yang merencanakan serangan 11 September…
Namun, kenaikan tersebut tidak mampu mengimbangi anjloknya bantuan internasional..
Produk domestik bruto (PDB) per kapita berdasarkan paritas daya beli kini hanya sekitar US$2.300, atau kurang lebih kembali ke level pertengahan 2000-an..
Di tengah keterasingan internasional, pemerintah Taliban tetap mencoba membangun ekonomi..
Di salah satu sekolah di Kabul, sekitar 600 perempuan dilaporkan mendapatkan pendidikan, termasuk matematika, sains, geografi sekaligus bahasa Inggris…
Kekeringan berkepanjangan membuat pasokan pangan terbatas, sementara banyak masyarakat harus berutang untuk bertahan hidup..
Namun, stabilitas tersebut datang bersama represi.
“Kami tidak ingin hanya tinggal di rumah, ditambah lagi dengan membesarkan anak atau menjadi guru di sekolah Islam..
Lima tahun kemudian, Taliban telah memperkuat kendalinya atas Afghanistan.
Tahun lalu, jumlah warga sipil yang tewas dalam serangan teror turun menjadi kurang dari 100 orang.
Namun, sejak 2021, perempuan berusia di atas 12 tahun dilarang mengikuti pendidikan menengah secara resmi..
Sebelum Taliban kembali berkuasa, angka partisipasi sekolah meningkat selama dua dekade.
Kondisi ini membuat rumah sakit. Di samping itu, klinik kekurangan pendanaan juga perlu diperhatikan..
Bantuan kemanusiaan, ditambah lagi dengan pembangunan yang mencapai sekitar US miliar pada 2020 turun menjadi hanya USBantuan kemanusiaan,2 miliar pada 2025, dan diperkirakan kembali lebih rendah pada 2026…
Pemerintah juga berinvestasi pada kanal, jaringan pipa gas, pembangkit tenaga surya serta memberikan izin pertambangan untuk komoditas, misalnya emas, tembaga sekaligus litium….
Perkembangan terkait 5 Tahun Taliban Kuasai Afghanistan: Aman, Tapi Rakyat Makin Miskin akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Daftar Nama Bayi yang Diprediksi Akan ‘Punah’ di 2026 | Equityworld Futures
- Equityworld Futures Surabaya | Singapura Masih Jadi Investor Terbesar di RI: China, AS-Jepang Ngintip