Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Mata Uang Asia Digilas Dolar: Rupiah Takluk, Tapi Ringgit Perkasa yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Analis Capital Economics menilai dolar AS memang sedikit terkoreksi setelah kenaikan tajam pasca-FOMC.
Jakarta, Equityworld Futures – Mayoritas mata uang Asia tertekan dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026).
Setelah rapat FOMC pekan lalu, pasar mulai melihat a, ditambah lagi dengan ya perbedaan arah kebijakan moneter antara AS dan kawasan lain, terutama Eropa…
Dolar Singapura melemah 0,22% ke SGD 1,296/US$, sementara yuan China terkoreksi 0,43% ke CNY 6,798/US$..
Rupiah menjadi salah satu mata uang yang tertekan cukup dalam pada perdagangan kemarin.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang 69% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada rapat yang berakhir 29 Juli, naik dari 65,8% sehari sebelumnya..
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,07% ke posisi 101,357 pada perdagangan kemarin.
Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyebut ada sedikit harapan dari inflasi jasa.
Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan tekanan inflasi kemungkinan akan mereda tahun ini.
Namun, dia tetap menilai tekanan harga inti masih terlalu tinggi sekaligus bergerak ke arah yang kurang nyaman…
Namun, level inflasi masih terlalu tinggi untuk saat ini..
Tekanan terdalam pagi ini dialami baht Thailand yang melemah 1,46% ke posisi THB 33,31/US$. Selain itu, menjadi salah satu terparah…
Merujuk data Refinitiv dari 10 mata uang Asia, terpantau sebanyak delapan mata uang melemah terhadap dolar AS, satu mata uang menguat,. Di samping itu, satu mata uang stagnan. juga perlu diperhatikan..
Mata uang Garuda melemah 0,36% ke posisi Rp17.905/US$.
DXY sebelumnya sempat menjauh dari level terkuat sejak Mei 2025.
Adapun dong Vietnam bergerak stagnan di posisi VND 26.245/US$..
Sejumlah pejabat The Fed juga memberikan sinyal yang beragam.
Dolar Taiwan juga masuk zona merah setelah turun 0,55% ke posisi TWD 31,85/US$.
// .
Indeks harga Personal Consumption Expenditures/PCE, yang menjadi ukuran inflasi favorit bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), naik 4,1% secara tahunan pada Mei 2026.
Peso Filipina menyusul dengan pelemahan 0,96% ke KRW 61.23/US$..
Komentar para pejabat The Fed tersebut sedikit meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga yang terlalu cepat.
Kenaikan ini sejalan dengan ekspektasi ekonom. Di samping itu, dipengaruhi oleh lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah. juga perlu diperhatikan..
Tekanan terjadi saat indeks dolar AS kembali bergerak menguat sekaligus masih bertahan di level tinggi…
Namun, mereka melihat perbedaan arah kebijakan moneter antara AS sekaligus Eropa masih dapat membuka ruang penguatan lanjutan bagi greenback pada paruh kedua 2026…
Namun, dolar AS masih berada di jalur penguatan mingguan dua pekan beruntun untuk pertama kalinya sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari..
Pelemahan ini belum membuat dolar AS beranjak dari area tinggi..
Posisi ini membuat rupiah semakin dekat ke level psikologis Rp18.000/US$..
“Setelah kenaikan tajam menyusul rapat FOMC pekan lalu, dolar AS sedikit melemah hari ini. Selain itu, mungkin akan jeda dalam waktu dekat,” tulis analis Capital Economics dalam risetnya, dikutip dari Reuters…
Penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir masih dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat.
Yen Jepang juga melemah 0,28% ke posisi JPY 161,73/US$.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 1,19% ke posisi MYR 4,005/US$..
Dari sisi data, inflasi AS kembali menjadi perhatian pasar.
Perkembangan terkait Mata Uang Asia Digilas Dolar: Rupiah Takluk, Tapi Ringgit Perkasa akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Equity World Trillium Surabaya – Harga Emas Turun di Bawah $4.000 per Ons Setelah China Cabut Insentif Pajak Ritel
- IHSG Loyo Jelang Lebaran, Saatnya Akumulasi Saham Potensial | Equityworld Futures