0 0
Read Time:6 Minute, 44 Second

Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Ini Analisa dan Penyebab Rupiah Terpuruk, Dolar AS Sudah Tembus Rp17.500 yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur minyak paling penting di dunia,. Akibatnya, setiap ketegangan di kawasan tersebut dapat langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global…

Kini, hanya dalam waktu singkat, rupiah kembali menembus Rp17.500/US$..

Namun, posisi terakhir pada April 2026, ca, ditambah lagi dengan gan devisa tercatat sebesar US6,2 miliar atau turun sekitar US,3 miliar hanya dalam empat bulan pertama tahun ini…

Oleh sebab itu, Tekanan terhadap rupiah semakin besar. menjadi konsekuensi dari Alasannya adalah harga minyak yang tinggi juga dapat mempengaruhi arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve…

Pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah langsung anjlok cukup dalam sebesar 0,43% ke posisi Rp17.480/US$..

Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Pada akhir Desember 2025, ca. Di samping itu, gan devisa RI berada di level US6,5 miliar juga perlu diperhatikan..

Selain itu, laporan yang menyebut Trump akan bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas kemungkinan dimulainya kembali operasi militer juga menambah kekhawatiran pasar..

Kondisi inilah yang membuat pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam menjaga defisit APBN agar tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB sepanjang 2026..

Tekanan fiskal ini menjadi penting terjadi karena defisit APBN memang tengah mengalami sorotan cukup besar..

Hal ini berpotensi memperpanjang tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah..

Tertembusnya level Rp17.500/US$ menjadi sinyal baru bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda..

Lonjakan harga energi berisiko membuat inflasi AS kembali sulit turun.

Pada perdagangna pagi ini, Harga minyak dunia acuan Brent mengalami kenaikan 0,95% ke level US5,2 per barel,. Di samping itu, untuk harga minyak WTI naik 1% ke US per barel. juga perlu diperhatikan..

Kondisi ini membuat pasar menilai BI kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam menggunakan amunisinya untuk menahan pelemahan rupiah..

Faktor utama yang menekan rupiah adalah penguatan dolar AS di pasar global..

Posisi ini sekaligus menjadi level terlemah intraday sepanjang masa bagi rupiah..

Jakarta, Equityworld Futures – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak juga dapat menambah risiko inflasi. Tak hanya itu, tekanan terhadap fiskal, terutama jika beban subsidi energi ikut meningkat. turut berperan penting..

Saat ini, investor juga masih menanti rilis data inflasi konsumen AS periode April.

Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan.

Tertembusnya dua level psikologis dalam sekitar sepekan menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bergerak cepat.

Namun, tekanan terhadap rupiah kali ini terjadi ketika ca. Di samping itu, gan devisa Indonesia sudah mengalami penurunan cukup dalam sepanjang 2026 juga perlu diperhatikan..

Contohnya, nya BI lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi untuk menghemat cadev,” ujar Rully kepada Equityworld Futures. dapat dilihat pada “Iya,..

// .

Pasar kembali mencermati pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meragukan keberlanjutan gencatan senjata AS-Iran. Selain itu, menolak tawaran damai terbaru dari Teheran…

Data tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting untuk melihat sejauh mana perang Iran mempengaruhi ekonomi AS, ditambah lagi dengan bagaimana arah kebijakan The Fed ke depan…

Tekanan terhadap rupiah terutama datang dari meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah.

Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor global.

Memasuki 2026, tekanan fiskal juga masih berlanjut.

Di tengah pelemahan rupiah yang semakin dalam, pasar juga mencermati ruang intervensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar..

Jika data inflasi menunjukkan tekanan harga masih kuat, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat semakin mundur.

Rupiah sebelumnya juga sudah menembus level psikologis Rp17.400/US$ pada Selasa pekan lalu (5/5/2026)..

Hal ini terlihat dari pergerakan mata uang Asia lainnya yang mayoritas juga melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS)..

Konflik AS-Iran yang belum benar-benar mereda kembali membuat pasar global berhati-hati..

Kondisi ini juga berpotensi memperkuat persepsi bahwa pelemahan mata uang Garuda masih belum selesai..

Level psikologis sangat penting dalam pergerakan mata uang.

Mata uang, misalnya rupiah pun semakin sulit mendapat ruang penguatan…

Jika inflasi tetap tinggi, pasar akan semakin yakin bahwa suku bunga AS perlu bertahan tinggi lebih lama..

Permintaan dolar AS dapat meningkat, baik untuk kebutuhan transaksi, lindung nilai, maupun antisipasi pelemahan lebih lanjut..

Angka ini masih berada di bawah batas maksimal defisit anggaran yang ditetapkan dalam Un, ditambah lagi dengan g-Undang, yakni 3% terhadap PDB…

Pada kuartal I-2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB.

Ketika level tersebut tertembus, pelaku pasar biasanya menjadi lebih defensif..

Kondisi ini kemudian memberi tekanan ke rupiah melalui dua hal..

Akibatnya, arus. Tak hanya itu, a ke negara berkembang berpotensi tertahan turut berperan penting..

Rencana untuk mengawal kapal komersial melalui Selat Hormuz turut menjadi perhatian..

Hal ini membuat indeks dolar AS (DXY) kembali bergerak menguat ke level 98,117 pada perdagangan pagi ini..

Apalagi, rupiah baru saja menembus level Rp17.400/US$ pada pekan lalu.

Pertama, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven kembali meningkat.

Kedua, konflik yang belum mereda juga membuat harga minyak dunia tetap berada di level tinggi.

Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.500/US$ tidak lepas dari tekanan eksternal yang kembali membesar.

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (12/5/2026) per pukul 09.15 WIB, rupiah terpantau melemah hingga menyentuh level Rp17.500/US$.

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan stabilisasi rupiah akibat tekanan eksternal yang kuat, mulai dari penguatan dolar AS, harga minyak yang tinggi, hingga ketidakpastian konflik AS-Iran..

Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana pada kuartal I-2025 defisit APBN tercatat sebesar Rp104,2 triliun atau 0,43% terhadap PDB..

Selama ini, BI memiliki sejumlah instrumen untuk menstabilkan rupiah, mulai dari intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder..

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, menilai BI tampaknya lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi untuk menghemat ca. Di samping itu, gan devisa. juga perlu diperhatikan..

Sebagai catatan, posisi ca. Tak hanya itu, gan devisa Indonesia terus turun sejak awal tahun turut berperan penting..

Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap dolar AS sangat tinggi. Selain itu, tekanan jual terhadap rupiah masih sangat kuat…

Tekanan eksternal pada perdagangan hari ini bisa dikatakan bermain cukup besar.

Di sisi lain, mata uang negara berkembang, misalnya rupiah menjadi lebih rentan..

Setelah Rp17.400/US$, kini pasar kembali menyaksikan rupiah melemah hingga menembus Rp17.500/US$..

Mata uang Garuda bahkan menembus level psikologis baru Rp17.500/US$ pada perdagangan hari ini..

Saat ketidakpastian global naik, investor biasanya cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, salah satunya dolar AS..

Pada 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB)..

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi rupiah.Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi..

Selain faktor global, pelemahan rupiah juga diperparah oleh faktor psikologis pasar.

Ketidakpastian Timur Tengah Dorong Dolar AS. Di samping itu, Harga Minyak juga perlu diperhatikan..

Artinya, hanya dalam waktu sekitar sepekan, dua level psikologis penting rupiah sudah tertembus.

Dengan menguatnya dolar AS di pasar global, ruang penguatan mata uang emerging market menjadi semakin sempit..

Perkembangan terkait Ini Analisa dan Penyebab Rupiah Terpuruk, Dolar AS Sudah Tembus Rp17.500 akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.


Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.

Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official

Baca juga:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By