Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait IHSG Ambruk 11,57%: Terburuk Sejak Krisis 1998 yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Penghentian perdagangan dilakukan untuk meredam kepanikan investor. Tak hanya itu, mencegah tekanan jual yang lebih besar turut berperan penting..
Penurunan harian terbesar IHSG dalam periode tersebut terjadi pada 8 Januari 1998.
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), indeks merosot 11,32% ke level 5.199,96, menjadi kejatuhan terdalam sejak Januari 1998..
Jakarta, Equityworld Futures – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan salah satu penurunan terburuk dalam sejarah pasar modal Indonesia..
Penurunan tersebut terjadi pada hari perdagangan pertama setelah tragedi Bom Bali pada 12 Oktober 2002.
Hampir 28 tahun berselang, IHSG kembali mengalami penurunan harian dua digit.
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG ambruk 11,57% ke level 5.199,96, menjadi penurunan harian terdalam dalam 28 tahun terakhir atau sejak krisis moneter 1998..
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham.
Sebelum kejatuhan pada 2026, salah satu penurunan terbesar IHSG terjadi pada 8 Oktober 2008.
Berikut lima penurunan harian IHSG terbesar berdasarkan data Refinitiv periode Januari 1998 hingga 16 Oktober 2026..
Kekhawatiran terhadap kondisi lembaga keuangan. Tak hanya itu, perlambatan ekonomi global memicu aksi jual di berbagai bursa saham, termasuk Indonesia. turut berperan penting..
Langkah ini menyusul kekhawatiran pelaku pasar terhadap kurangnya transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta lemahnya penegakan aturan di pasar modal..
Kejatuhan yang lebih dalam terakhir kali terjadi pada 8 Januari 1998, saat IHSG ambruk hingga 11,95% di tengah krisis moneter..
// .
Nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian setelah peristiwa tersebut..
Kekhawatiran terhadap dampaknya pada aliran. Tak hanya itu, a asing turut membayangi perdagangan saham domestik. turut berperan penting..
Kejatuhan IHSG terjadi bersamaan dengan merosotnya nilai tukar rupiah yang kehilangan sekitar 26% nilainya terhadap dolar AS dalam sehari..
MSCI telah membuka konsultasi terkait usulan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Penurunan tersebut terjadi ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka perdagangan setelah libur panjang Lebaran.
Dua hari sebelum kejatuhan pada 8 Oktober, IHSG lebih dahulu anjlok 10,03% ke level 1.648,74 pada perdagangan Senin (6/10/2008)..
Saat itu, krisis keuangan global se. Tak hanya itu, g mengguncang pasar dunia setelah kebangkrutan Lehman Brothers pada September 2008 turut berperan penting..
Kekhawatiran terhadap kelanjutan program penyelamatan ekonomi bersama. Selain itu, a Moneter Internasional (IMF) turut memperburuk kepercayaan pasar dan memicu aksi jual saham secara besar-besaran…
Saat itu, indeks anjlok 11,95% sekaligus ditutup pada level 347,11 di tengah krisis moneter yang melanda Indonesia…
Pasar saham langsung bereaksi negatif ketika perdagangan kembali dibuka pada Senin (14/10/2002).
Jika rencana tersebut direalisasikan, saham-saham Indonesia berpotensi dikeluarkan dari sejumlah indeks global MSCI yang selama ini menjadi acuan investasi berbagai pengelola. Di samping itu, a internasional. juga perlu diperhatikan..
// .
Kejatuhan besar lainnya terjadi pada 14 Oktober 2002, ketika IHSG anjlok 10,36% hingga ditutup pada level 337,48..
Tekanan jual begitu besar hingga IHSG sempat terperosok sekitar 19% sepanjang perdagangan, sebelum memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan..
Kepanikan investor semakin meningkat setelah pemerintah mengumumkan Rancangan Anggaran Pendapatan, ditambah lagi dengan Belanja Negara (RAPBN) 1998/1999 yang dinilai belum mampu menjawab persoalan ekonomi saat itu..
Investor mengkhawatirkan dampak serangan tersebut terhadap sektor pariwisata, investasi, serta kepercayaan internasional terhadap Indonesia..
Tekanan kali ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Berbeda dengan krisis moneter 1998, tekanan kali ini terjadi di tengah kekhawatiran terhadap posisi Indonesia dalam indeks saham global..
Peristiwa yang menewaskan ratusan orang itu mengguncang Indonesia sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi keamanan. Di samping itu, kegiatan ekonomi nasional. juga perlu diperhatikan..
Selama bursa domestik tutup, pasar saham global terus mengalami tekanan akibat memburuknya krisis keuangan di Amerika Serikat (AS)..
Berdasarkan data Refinitiv, penurunan IHSG kali ini bahkan lebih tajam dibandingkan saat krisis keuangan global 2008, ketika indeks pernah mengalami penurunan 10,38% dalam sehari..
Krisis keuangan global 2008 tidak hanya sekali membuat IHSG mencatatkan penurunan harian lebih dari 10%..
Investor semakin khawatir terhadap kondisi ekonomi dunia, terutama setelah krisis sektor keuangan AS mulai berdampak pada pasar keuangan di berbagai negara..
Ketika perdagangan kembali dibuka, kekhawatiran terhadap dampak krisis global langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia.
Saat itu, indeks merosot 10,38% ke level 1.451,67 sebelum perdagangan dihentikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI)..
Bursa kemudian tetap ditutup pada beberapa hari perdagangan berikutnya sebelum kembali dibuka pada 13 Oktober 2008..
Dalam hampir tiga dekade terakhir, IHSG beberapa kali mengalami penurunan harian lebih dari 10%, mulai dari krisis moneter 1998, tragedi Bom Bali 2002, hingga krisis keuangan global 2008..
Perkembangan terkait IHSG Ambruk 11,57%: Terburuk Sejak Krisis 1998 akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Alasan Produk Farmasi AS Tak Perlu Diuji Ulang di Indonesia | Equityworld Futures
- Equityworld Trillium Surabaya βΒ Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed