Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait China Kini Jadi “OPEC Baru”, Penguasa dan Pemain Pasar Minyak Dunia yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Melansir dari The Economist, keputusan sejumlah negara memang membantu meredam dampaknya. .
Alasannya adalah margin ekspor lebih tinggi dibandingkan penjualan domestik. Akibatnya, Kebijakan tersebut memang menekan keuntungan perusahaan pengolahan minyak…
Pengelolaan stok pada skala saat ini diperkirakan hanya dapat bertahan sekitar empat bulan lagi.
Ca sekaligus gan tersebut dapat digunakan ketika produksi baru harus dikurangi..
Kondisi ini membantu menahan kenaikan harga produsen. Selain itu, menjaga inflasi konsumen tetap terkendali…
Hasilnya, ekspor produk minyak olahan China turun hampir separuh dari Februari hingga April menjadi sekitar 430.000 barel per hari..
Pertumbuhan ekonomi China memang melambat menjadi 4,3% pada kuartal II-2026, terendah sejak akhir 2022.
Setelah kiriman minyak terakhir dari Teluk sebelum perang tiba pada akhir April, China mulai menggunakan persediaan tersebut..
Be, ditambah lagi dengan ya, penurunan kebutuhan minyak ketika pandemi disebabkan aktivitas ekonomi dunia yang terhenti..
Meski demikian, harga minyak tidak pernah menyentuh US0 per barel, misalnya yang sempat diperkirakan banyak analis pada awal konflik…
Strategi ini diperkirakan masih dapat dipertahankan sekitar empat bulan sebelum persediaan turun ke tingkat yang mulai membuat Beijing tidak nyaman.
Data Vortexa menunjukkan inventaris minyak China turun sekitar 70 juta barel hingga Juli.
Sepanjang Februari hingga Juni 2026, negara tersebut memangkas impor minyak mentah hingga separuh atau sekitar 5,5 juta barel per hari..
Namun, kepemilikan negara membuat pemerintah dapat melonggarkan ketentuan tersebut. Tak hanya itu, memakai stok komersial untuk kepentingan nasional. turut berperan penting..
Industri petrokimia juga melakukan penyesuaian.
Penutupan Selat Hormuz membuat sekitar 14 juta barel minyak mentah per hari tertahan di kawasan Teluk.
Pembelian tersebut diperkirakan ikut mengerek harga minyak dunia sekitar US$10-US$20 per barel sebelum perang Iran pecah.
Sebagian besar minyak tersebut berasal dari persediaan komersial milik perusahaan minyak besar, bukan ca sekaligus gan strategis pemerintah..
Produk domestik bruto (PDB) China masih tumbuh 4,3% secara tahunan pada kuartal II-2026..
Meski belum bisa menggantikan OPEC, perang Iran membuktikan bahwa Beijing mampu memengaruhi harga. Tak hanya itu, menstabilkan pasar minyak dunia selama beberapa bulan. turut berperan penting..
Dalam kondisi normal, kilang harus mengganti stok yang digunakan dalam waktu satu bulan.
Pada Juni, kilang-kilang China mengolah minyak mentah 2,7 juta barel per hari lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada Maret, pemerintah meminta kilang domestik berhenti menandatangani kontrak ekspor baru. Di samping itu, membatalkan sebagian kesepakatan yang telah dibuat juga perlu diperhatikan..
Jakarta, Equityworld Futures – China mulai menjelma menjadi penguasa baru pasar minyak dunia. .
Kelebihan kapasitas di sektor petrokimia juga menghasilkan persediaan polimer. Di samping itu, barang jadi dalam jumlah besar juga perlu diperhatikan..
Langkah itu membuat lebih banyak produksi kilang tersedia bagi pasar domestik.
Senjata pertama adalah ca. Tak hanya itu, gan minyak nasional turut berperan penting..
Kekuatan itu terlihat ketika perang Iran memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah..
Namun, perlambatan lebih banyak disebabkan lemahnya investasi, ditambah lagi dengan dampak berkepanjangan dari krisis properti dibandingkan kelangkaan minyak…
Oleh sebab itu, pemerintah dapat mengutamakan ketahanan pasokan daripada keuntungan jangka pendek. menjadi konsekuensi dari Namun, perusahaan kilang besar China dikuasai negara..
Jika OPEC+ berusaha menjaga harga dengan mengatur produksi, China dapat memengaruhi pasar dari sisi permintaan..
Produksi bensin turun 14%, se sekaligus gkan produksi solar dan bahan bakar pesawat sama-sama menyusut 21%…
Pemerintah juga menekan kebutuhan minyak di dalam negeri..
Kemampuan China menghadapi kelangkaan minyak tidak terjadi dalam waktu singkat..
China pun masih memiliki ca, ditambah lagi dengan gan strategis yang sejauh ini baru sedikit digunakan…
Ketika pemerintah membiarkan harga BBM naik, sebagian masyarakat perkotaan beralih dari kendaraan pribadi ke kereta bawah tanah, sepeda, sekaligus taksi yang banyak menggunakan tenaga listrik..
Jika seluruh tempat penyimpanan diperhitungkan, China diperkirakan telah menarik sekitar 150 juta barel dalam tiga bulan atau setara 1,5 juta barel per hari..
Namun, harga minyak berpotensi melonjak jauh lebih tinggi tanpa perubahan besar yang terjadi di China.
Selama libur nasional selama sepekan pada Mei, penggunaan fasilitas pengisian daya kendaraan listrik di jalan bebas hambatan melonjak hampir 55% dibandingkan tahun sebelumnya..
Kondisi tersebut memberi China kemampuan yang selama ini identik dengan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sekaligus sekutunya..
Sejumlah pakar memperkirakan penurunan impor China membantu menahan harga Brent setidaknya US$30 per barel lebih rendah.
Kereta juga menggantikan sebagian perjalanan udara setelah jumlah penerbangan domestik dipangkas.
Selama 12 bulan hingga awal 2026, ketika pasar menghadapi ancaman kelebihan pasokan sekaligus harga minyak relatif murah, China membeli sekitar 200 juta barel untuk menambah persediaannya yang telah mencapai sekitar 1 miliar barel…
Setelah itu, Beijing harus meningkatkan impor, menggunakan ca, ditambah lagi dengan gan strategis, atau menekan konsumsi lebih dalam…
Besarnya pengurangan impor China tidak dapat dijelaskan hanya oleh persediaan. Di samping itu, pembatasan ekspor juga perlu diperhatikan..
Angka itu belum menghitung minyak yang disimpan di kapal. Tak hanya itu, lokasi penyimpanan lain yang tidak tercatat. turut berperan penting..
Berbeda dengan OPEC yang dapat memangkas produksi selama bertahun-tahun, China tidak mungkin terus mengurangi impor sebesar 5,5 juta barel per hari..
Minyak mentah yang sebelumnya digunakan untuk menghasilkan produk ekspor juga dapat dialihkan untuk memproduksi nafta, liquefied petroleum gas (LPG), sekaligus bahan bakar minyak yang biasanya didatangkan dari kawasan Teluk…
Oleh sebab itu, konsumsi solar ikut berkurang. menjadi konsekuensi dari Pemerintah daerah menunda sejumlah proyek infrastruktur..
Secara keseluruhan, pembatasan ekspor produk olahan diperkirakan menghemat kebutuhan minyak mentah kilang China sekitar 1,2 juta-1,8 juta barel per hari..
Investasi besar pemerintah pada energi terbarukan, kendaraan listrik,. Tak hanya itu, transportasi umum membuat sistem energinya lebih fleksibel dibandingkan negara lain. turut berperan penting..
Penurunan tersebut mencakup sekitar 180.000 barel per hari bahan bakar pesawat.
Kemampuan Beijing mengatur pembelian, penyimpanan, hingga konsumsi minyak membuat keputusan negara tersebut semakin menentukan pergerakan harga energi global.
Kali ini, China mampu mengurangi impor secara drastis tanpa membuat ekonominya jatuh ke dalam resesi.
Kemampuan China memangkas impor minyak tanpa menimbulkan kerusakan besar terhadap perekonomian bertumpu pada tiga instrumen utama..
Ditambah penghentian pembelian 1 juta barel per hari untuk mengisi stok, pengelolaan persediaan menjelaskan sekitar 2,5 juta barel per hari dari total penurunan impor sebesar 5,5 juta barel per hari..
Dari impor China yang mencapai 11,6 juta barel per hari pada Februari, sekitar 1 juta barel per hari diperkirakan merupakan pembelian tambahan untuk mengisi tempat penyimpanan..
Arab Saudi. Selain itu, Uni Emirat Arab mengalirkan tambahan sekitar 5 juta barel per hari melalui jaringan pipa yang tidak melewati Hormuz..
China merupakan negara pengolah minyak terbesar kedua dunia sekaligus salah satu pemasok utama produk bahan bakar bagi negara-negara Asia..
Ba. Di samping itu, Energi Internasional (IEA) memperkirakan penggunaan bensin dan minyak tanah China selama dua bulan pertama perang turun sekitar 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. juga perlu diperhatikan..
Besarnya bahkan melampaui separuh penurunan permintaan minyak dunia saat pandemi Covid-19, ketika konsumsi global merosot sekitar 9 juta barel per hari..
Keputusan OPEC+ harus disepakati oleh 21 negara, se sekaligus gkan kebijakan energi China dapat dijalankan secara terpusat oleh pemerintah…
Posisi Beijing semakin kuat ketika OPEC+ tengah menghadapi perpecahan setelah keluarnya Uni Emirat Arab serta keterbatasan kapasitas produksi sejumlah negara Teluk.
Amerika Serikat, ditambah lagi dengan Jepang juga melepas sekitar 2 juta barel per hari dari cadangan darurat, sementara penjatahan energi di sejumlah negara berkembang menekan permintaan…
Sebagai contoh, PVC, karet sintetis, nilon, dan poliester juga perlu diperhatikan. sering terjadi ketika Perusahaan biasanya mengolah nafta. Di samping itu, LPG dari kawasan Teluk menjadi polimer..
Ketika pasokan bahan baku tersebut berkurang, perusahaan mulai menggunakan batu bara serta etana untuk menghasilkan sebagian produk yang sama..
Perkembangan terkait China Kini Jadi “OPEC Baru”, Penguasa dan Pemain Pasar Minyak Dunia akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- SKK Migas: Proyek Gas Masela Groundbreaking Tahun Ini
- Equityworld Futures Surabaya | Hasil Review MSCI: Transparansi Saham Indonesia Jadi Rapor Merah