Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Mata Uang Asia Tak Kompak: Won Melemah, Rupiah-Ringgit Menguat yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Yuan China turut bergerak positif dengan penguatan 0,05% ke CNY 6,766/US$..
Dong Vietnam melemah tipis 0,02% ke VND 26.265/US$..
Warsh mengatakan bank sentral AS tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang terus-menerus tinggi.
Data tersebut sempat meredakan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed)..
Kondisi tersebut membuat harga minyak acuan Brent terdorong ke atas US$85 per barel..
Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya mengatakan suku bunga mungkin perlu naik dalam waktu dekat jika data menunjukkan inflasi masih jauh di atas target 2%..
Jika harga minyak bertahan tinggi, tekanan inflasi global dapat kembali meningkat. Tak hanya itu, mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. turut berperan penting..
Uto Shinohara, senior investment strategist Mesirow Currency Management, menilai prospek inflasi masih belum jelas meski data CPI AS lebih lunak..
Shawn Snyder, economic strategist Potomac Fund Management, menilai sikap The Fed yang keras terhadap inflasi masih dapat memberi ruang bagi dolar AS untuk kembali menguat..
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan terdalam setelah melemah 0,13% ke posisi KRW 1.490,96/US$..
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,12% ke posisi 100,798 pada pagi ini.
Namun, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin tekanan inflasi sudah benar-benar reda.
Penguatan paling tajam dicatatkan ringgit Malaysia yang naik 0,27% ke posisi MYR 4,065/US$.
Oleh sebab itu, investor kembali mencermati risiko inflasi dari harga energi.
Meski Sebagian mata uang Asia mampu menguat,, namun beberapa lainnya masih tertahan di zona merah. tetap penting..
// .
Jakarta, Equityworld Futures – Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak seirama pada perdagangan Rabu (15/7/2026).
Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli memang turun menjadi 16%, dari 42% pada Senin (13/7/2026), berdasarkan CME FedWatch.
“Jika Chair Warsh serius bahwa lonjakan inflasi lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu, kita harus mempertimbangkan apakah siklus pengetatan ini akan menjadi sedikit lebih menyakitkan dari yang saat ini diperkirakan,” ujar Snyder..
Dolar Singapura juga melemah 0,07% ke SGD 1,289/US$, sementara peso Filipina terkoreksi 0,06% ke PHP 61,609/US$.
Namun, peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini masih cukup besar, yakni sekitar 80%..
Snyder juga menambahkan jika hal tersebut terjadi maka dolar AS masih berpotensi mengalami penguatan ke depannya..
Pasukan AS. Di samping itu, Iran kembali saling melancarkan serangan yang membuat lalu lintas laut melalui Selat Hormuz hampir kembali berhenti juga perlu diperhatikan..
“Dengan inflasi yang tetap berada di atas target selama bertahun-tahun, ditambah ketegangan geopolitik baru yang menjaga risiko inflasi berbasis energi tetap tinggi, ditambah lagi dengan perubahan sikap Trump dari rencana biaya perlindungan 20% menuju kesepakatan perdagangan dan investasi, prospek inflasi secara luas masih tidak pasti meski laporan CPI lebih lemah,” ujar Shinohara, dikutip dari Reuters…
Konflik AS-Iran yang kembali memanas membuat harga energi naik, ditambah lagi dengan menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed tetap hidup…
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak lima mata uang menguat terhadap dolar AS, empat mata uang melemah,, ditambah lagi dengan satu mata uang stagnan…
Mata uang Garuda naik 0,22% ke posisi Rp18.040/US$. .
Penguatan tipis ini terjadi setelah dolar AS sempat melemah tajam hingga 0,31% pada perdagangan terakhirnya..
Ketegangan di Teluk juga kembali meningkat.
Adapun dolar Taiwan bergerak stagnan di posisi TWD 32,141/US$..
Ia juga menyebut jika kebijakan The Fed berjalan tepat, lonjakan inflasi dalam lima tahun terakhir dapat menjadi bagian dari masa lalu..
Di saat bersamaan, Ketua The Fed Kevin Warsh juga memberikan testimoni per. Di samping itu, a di hadapan Kongres AS. juga perlu diperhatikan..
Yen Jepang juga menguat 0,10% ke posisi JPY 162,05/US$, disusul baht Thailand yang naik 0,06% ke THB 33,48/US$.
Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia setelah data inflasi AS periode Juni lebih rendah dari perkiraan.
Perkembangan terkait Mata Uang Asia Tak Kompak: Won Melemah, Rupiah-Ringgit Menguat akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Equity World Trillium Surabaya – Pasar Saham Asia Melemah, Investor Waspadai Kebijakan Suku Bunga The Fed
- BNI Pastikan Transaksi Aman Selama Libur Paskah | Equityworld Futures