Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Baht-Ringgit-Won Perkasa Saat Dolar AS Loyo, Rupiah Masih Tertinggal yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Pelemahan dolar AS sebenarnya menjadi angin segar bagi mata uang Asia.
Meski Sebagian mata uang regional memang berhasil menguat,, namun rupiah masih tertahan oleh sentimen domestik yang kurang positif. tetap penting..
Sebelum data tenaga kerja dirilis, pasar sempat cukup agresif memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada September.
Meskipun Penyebab utamanya adalah pasar juga tetap mempertimbangkan kondisi domestik masing-masing negara. ,. Akibatnya,, tetap saja, respons setiap mata uang tidak sama terjadi….
Namun secara mingguan, mata uang Garuda masih belum mampu lepas dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS)..
Tekanan terhadap dolar AS pada pekan ini datang dari data tenaga kerja Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari perkiraan..
Aktivitas manufaktur juga kembali tertekan setelah PMI manufaktur turun semakin dalam ke zona kontraksi..
Rupiah menyusul dengan pelemahan 0,22%, kemudian peso Filipina melemah 0,21%. Selain itu, dong Vietnam turun 0,19%…
Posisi berikutnya ditempati ringgit Malaysia yang menguat 0,44% ke posisi MYR 4,067/US$, disusul won Korea Selatan yang naik 0,39% ke KRW 1.529,01/US$..
// .
Akibatnya, pelaku pasar mulai memangkas ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat..
Penguatan tersebut membuat rupiah berhasil mematahkan tren pelemahan dalam tiga hari perdagangan beruntun.
Melansir Refinitiv, pada perdagangan Jumat (3/7/2026), rupiah ditutup menguat 0,24% ke posisi Rp17.945/US$..
Data non-farm payrolls AS menunjukkan ekonomi hanya menambah 57.000 pekerjaan pada Juni 2026.
Untuk mata uang Asia, pelemahan dolar AS seharusnya menjadi katalis positif.
Baht Thailand menjadi mata uang Asia paling perkasa pada pekan ini dengan penguatan 0,54%.
Di saat yang sama, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun.
Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.
Sejumlah data ekonomi yang dirilis pada awal pekan memberi sinyal kurang positif terhadap ekonomi Indonesia..
Tekanan dari dalam negeri masih cukup besar.
Meski indeks dolar AS melemah, pergerakan mata uang Asia pada pekan ini tidak sepenuhnya seragam..
Data tersebut memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan tenaga.
Kondisi ini menunjukkan pelemahan dolar AS belum cukup kuat untuk mengangkat seluruh mata uang Asia.
Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,49% dalam sepekan ke posisi 100,857..
Enam mata uang berhasil menguat terhadap dolar AS, sementara empat lainnya masih melemah..
Namun, penguatan rupiah pada akhir pekan belum cukup untuk membawa mata uang Garuda mencatat kinerja positif secara mingguan..
Inflasi Indonesia kembali naik pada Juni 2026.
Yuan China juga menguat 0,27% ke CNY 6,7797/US$, yen Jepang naik 0,22%,. Di samping itu, dolar Singapura menguat 0,14% ke SGD 1,291/US$. juga perlu diperhatikan..
Angka ini jauh di bawah ekspektasi ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan penambahan 110.000 pekerjaan..
Sementara itu, dolar Taiwan menjadi mata uang Asia yang paling tertekan dengan pelemahan 0,25%.
Pergerakan rupiah sepanjang pekan ini juga terjadi di tengah pelemahan dolar AS di pasar global.
Jakarta, Equityworld Futures – Rupiah berhasil menutup perdagangan terakhir pekan ini di zona hijau.
Sebab, ketika peluang kenaikan suku bunga The Fed mereda, daya tarik dolar sebagai aset berbasis imbal hasil tinggi ikut berkurang..
Apalagi, posisi rupiah masih berada tidak jauh dari level psikologis Rp18.000/US$..
Namun, setelah data tersebut keluar, ekspektasi kenaikan suku bunga mulai menurun..
Meski demikian, secara mingguan rupiah masih melemah 0,22% secara point-to-point..
Perkembangan terkait Baht-Ringgit-Won Perkasa Saat Dolar AS Loyo, Rupiah Masih Tertinggal akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Equityworld Futures Surabaya | Harga Batu Bara Melonjak 3 Hari “Terbakar” Mega Proyek India
- Bank Jatim Fokus Tiga Strategi untuk Jadi BPD Nomor 1 di RI