Equity World Futures Surabaya – Dolar AS Bertahan, Namun Berpotensi Catat Pelemahan Mingguan
Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada Jumat (12 Juni), namun masih berada di jalur pelemahan mingguan kedua dalam tiga minggu terakhir. Tekanan terhadap dolar muncul setelah pasar semakin optimistis bahwa kesepakatan sementara antara AS dan Iran dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan dan membuka kembali Selat Hormuz.
Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat relatif datar setelah sempat naik 0,2% pada awal perdagangan. Sebagian besar mata uang utama kelompok G-10 melemah terhadap dolar AS, sementara krona Swedia menjadi satu-satunya mata uang yang menguat.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,48%, memberikan dukungan terbatas terhadap pergerakan dolar.
Peluang Kesepakatan AS-Iran Meningkat
Sentimen pasar membaik setelah seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran mencapai 80%-85%.
Meski demikian, beberapa kelompok garis keras di Iran masih berpotensi menghambat proses diplomasi. Jika kesepakatan benar-benar tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka, tekanan terhadap harga energi dapat berkurang dan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven juga berpotensi menurun.
Data Ekonomi AS Berikan Dukungan
Dari sisi ekonomi, kepercayaan konsumen AS pada awal Juni meningkat untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir, didukung oleh turunnya harga bensin.
Meski begitu, investor masih mencermati perkembangan inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), terutama karena harga energi masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
USD/JPY Kembali Mendekati Area Intervensi
Di pasar valuta asing, pasangan USD/JPY naik 0,18% ke level 160,21 dan kembali mendekati area yang dianggap sensitif oleh otoritas Jepang untuk melakukan intervensi.
Data CFTC menunjukkan bahwa dana spekulatif meningkatkan posisi bearish terhadap yen ke level tertinggi sejak 2017. Di sisi lain, posisi bullish terhadap dolar AS naik menjadi US$27,8 miliar, tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Euro Masih Tertekan Sinyal ECB
Pasangan EUR/USD turun tipis 0,1% ke level 1,1569 setelah berhasil memangkas sebagian kerugian sebelumnya.
Euro masih dipengaruhi oleh pernyataan pejabat Bank Sentral Eropa (ECB), Joachim Nagel, yang menegaskan bahwa ECB siap menaikkan suku bunga kembali bulan depan apabila konflik Timur Tengah memperburuk tekanan inflasi.
Untuk saat ini, arah dolar AS akan sangat bergantung pada konfirmasi kesepakatan AS-Iran, pergerakan harga minyak dunia, ekspektasi kebijakan The Fed, serta potensi intervensi terhadap yen Jepang.
Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures
- Akun Demo Trading
- Registrasi Online
- Data Historis Trading
- Kontak Resmi
- Profil Perusahaan
