Equity World Futures Surabaya – Harga emas dunia bergerak stabil cenderung melemah pada Senin (8 Juni), setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal ke wilayah Israel. Serangan terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah kembali menghadapi tantangan besar.
Logam mulia diperdagangkan di sekitar US$4.335 per troy ounce, setelah mengalami penurunan hampir 5% sepanjang pekan lalu dan kehilangan momentum penguatannya.
Ketegangan Timur Tengah Kembali Meningkat
Serangan yang terjadi pada Minggu tersebut menjadi eskalasi terbesar sejak gencatan senjata disepakati pada awal April. Situasi ini menimbulkan keraguan terhadap prospek perdamaian yang selama ini diharapkan pasar.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan masih menginginkan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dengan Iran. Namun, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati karena proses negosiasi dinilai rapuh dan sangat rentan terganggu oleh perkembangan militer di lapangan.
Konflik yang kini memasuki bulan keempat terus mengganggu arus distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia.
Harga Minyak Tinggi Picu Kekhawatiran Inflasi
Gangguan pasokan energi telah mendorong harga minyak tetap tinggi, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan bank-bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan berpotensi menaikkannya kembali apabila tekanan harga terus berlanjut.
Lingkungan suku bunga tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset safe haven tersebut tidak memberikan imbal hasil (yield).
Data Tenaga Kerja AS Menekan Harga Emas
Tekanan tambahan terhadap harga emas datang dari kondisi ekonomi Amerika Serikat. Pada Jumat lalu, emas menghapus seluruh keuntungan sejak awal tahun setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan.
Data tersebut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, sekaligus memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat kembali memperketat kebijakan moneternya pada 2026.
Penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan global.
Aksi Beli Murah dan Permintaan Bank Sentral Jadi Penopang
Meski demikian, penurunan harga emas masih tertahan oleh beberapa faktor pendukung. Sebagian investor diperkirakan mulai memanfaatkan koreksi tajam pekan lalu untuk melakukan aksi buy on weakness atau membeli saat harga sedang turun.
Selain itu, sejumlah analis menilai berbagai akar permasalahan konflik Timur Tengah masih belum terselesaikan. Akibatnya, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dan berpotensi memicu kembali permintaan aset safe haven.
Dari sisi fundamental, permintaan emas oleh bank sentral dunia juga masih kuat. People’s Bank of China (PBOC) dilaporkan menambah sekitar 10 ton cadangan emas pada bulan lalu, sekaligus memperpanjang tren akumulasi yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Pembelian berkelanjutan dari bank sentral China tersebut dianggap sebagai faktor psikologis yang membantu menopang harga emas, meskipun dampaknya belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari dolar AS dan suku bunga tinggi.
Prospek Harga Emas
Dalam perdagangan Asia, harga emas sempat naik tipis ke level US$4.337,91 per troy ounce, sementara Bloomberg Dollar Index melanjutkan penguatan setelah mencatat kenaikan signifikan pada pekan sebelumnya.
Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi Equityworld Futures
- Akun Demo Trading
- Registrasi Online
- Data Historis Trading
- Kontak Resmi
- Profil Perusahaan
