0 0
Read Time:3 Minute, 20 Second

Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait China Bangun “Benteng Pangan”, Banyak Negara Terancam! yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.

Untuk eksportir pangan dunia, fase berikutnya tampaknya tidak lagi semudah era ledakan impor China dua dekade terakhir..

Per kapita, luas lahan pertanian China jauh di bawah Amerika Serikat.

Jakarta, CNBCย Indonesia-ย China mulai mempercepat agenda swasembada pangan di tengah ketidakpastian geopolitik. Tak hanya itu, ancaman gangguan rantai pasok global. turut berperan penting..

Pangan kini diperlakukan sebagai instrumen kekuatan ekonomi.

Brasil. Tak hanya itu, AS selama ini menikmati lonjakan permintaan dari pasar China turut berperan penting..

Apalagi China memiliki keterbatasan lahan subur, ditambah lagi dengan air..

China diperkirakan dapat menjadi eksportir bersih untuk produk unggas, susu, telur, hingga hasil perikanan pada 2040.

Pada 2050, Beijing diperkirakan sudah masuk ke industri cultivated meat atau daging hasil kultur laboratorium dalam skala besar..

Skenario yang lebih panjang bahkan lebih agresif.

Kekhawatiran Beijing bertambah setelah konflik geopolitik membuat perdagangan global makin sulit diprediksi..

Fokus Beijing kini bergeser ke penguatan produksi domestik, mulai dari gandum, kedelai, hingga protein alternatif.

Ketika negara masuk penuh lewat teknologi, pembiayaan,. Di samping itu, regulasi, dampaknya bisa meluas ke rantai pasok global juga perlu diperhatikan..

Fokus utama Beijing berada pada protein sekaligus pakan ternak..

Negara eksportir akan mencari pasar baru ke Asia Selatan, ditambah lagi dengan Afrika Sub-Sahara..

Dukungan negara mengalir lewat bank-bank milik pemerintah, perusahaan BUMN, hingga kebijakan pengadaan pangan domestik..

Permintaan pangan besar belum otomatis berubah menjadi pasar yang mampu menyerap impor dalam jumlah tinggi..

Selama puluhan tahun, konsumsi daging masyarakat China naik sangat cepat seiring peningkatan pendapatan.

Laporan Systemiq yang dikutip Financial Times memperkirakan permintaan kedelai China dapat turun signifikan sebelum 2030 apabila strategi substitusi berjalan agresif.

Pemerintah melihat ketergantungan pangan sebagai risiko strategis..

Polanya mirip dengan ekspansi industri kendaraan listrik sekaligus energi baru…

Setelah bergabung ke WTO pada 2001, ketergantungan impor pangan China meningkat tajam.

Namun arah kebijakan mulai berubah sejak Xi Jinping menempatkan pangan sejajar dengan energi. Di samping itu, keuangan dalam agenda keamanan nasional juga perlu diperhatikan..

Ketergantungan inilah yang kini ingin ditekan..

Bagi pasar global, perubahan ini berpotensi menggeser arus perdagangan pangan yang selama ini stabil sejak awal 2000-an.

Penurunan impor berarti tekanan baru bagi harga komoditas pertanian dunia..

Masalahnya, produksi daging bergantung pada impor pakan, terutama kedelai.

Ketika perang Rusia-Ukraina mengguncang rantai pasok global pada 2022, isu pangan makin sering muncul dalam pidato resmi pemerintah China.

Bagi China, persoalannya bukan semata volume impor.

Kedelai dari Brasil, jagung dari Amerika Serikat, hingga daging sapi dari berbagai negara masuk untuk memenuhi konsumsi domestik yang terus naik..

Jika strategi ini berjalan penuh, eksportir pangan besar, misalnya Brasil, ditambah lagi dengan Amerika Serikat berpotensi kehilangan salah satu pasar terbesarnya….

Pada awal 2020-an, sekitar, misalnya ga pasokan pangan negara itu berasal dari impor…

Melansir Financial Times selama lebih dari 20 tahun terakhir, China tumbuh menjadi pembeli terbesar komoditas pertanian dunia.

Kondisi itu membuat impor selama ini menjadi jalan tercepat untuk menjaga harga pangan tetap stabil..

Pemerintah China mempercepat pengembangan pertanian pintar, membuka komersialisasi jagung. Tak hanya itu, kedelai hasil rekayasa genetika, serta mendorong riset protein alternatif turut berperan penting..

Perkembangan terkait China Bangun “Benteng Pangan”, Banyak Negara Terancam! akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.


Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.

Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official

Baca juga:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By