0 0
Read Time:3 Minute, 55 Second

Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Zaman Edan: Belum Lama Harga Minyak Masih Minus, Sekarang US$100 yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.

Memasuki pertengahan 2020, pergerakan mulai berubah.

Melansir dari Matthew Johnston, optimisme terhadap distribusi vaksin ikut memperkuat pemulihan tersebut.

Inilah yang membuat kontrak berjangka WTI untuk pengiriman Mei 2020 jatuh ke harga negatif..

Harga Brent ikut tertekan hingga hanya US$9,12 per barel pada April 2020, jauh dari kisaran US$70 di awal tahun.

Gangguan ini diikuti penutupan lebih dari 3 juta barel per hari kapasitas kilang di kawasan tersebut akibat serangan, ditambah lagi dengan hambatan ekspor..

Produsen tidak memiliki ruang untuk menampung minyak tambahan..

Harga bergerak cepat mengikuti perubahan ini.

Oleh sebab itu, Masalah muncul di sisi logistik, tangki penyimpanan penuh. Dalam kondisi ini, produsen justru harus merogoh kocek lebih dalam agar minyaknya diambil,. menjadi konsekuensi dari Alasannya adalah biaya penyimpanan lebih mahal daripada nilai komoditas itu sendiri..

Di sisi permintaan, gangguan penerbangan sekaligus distribusi LPG menahan konsumsi sekitar 1 juta barel per hari dalam jangka pendek..

Dalam kondisi penyimpanan penuh, pelaku pasar melepas kontrak tersebut dengan harga berapa pun agar tidak menanggung beban logistik..

Volume kontrak Mei di tahun tersebut relatif kecil dibandingkan kontrak bulan berikutnya,. Akibatnya, tekanan jual menjadi lebih tajam..

Saat distribusi terganggu, harga bergerak naik dalam waktu singkat..

Hal ini disebabkan oleh produsen memilih membayar pihak lain untuk mengambil minyak., akibatnya Harga bergerak ke wilayah negatif..

Brent sempat mendekati US$120 per barel sebelum turun ke kisaran US$92, naik sekitar US$20 dalam satu bulan.

Pada akhir tahun, harga WTI berada di sekitar US per barel, ditambah lagi dengan Brent di kisaran US per barel..

Arus minyak turun drastis, sementara kapasitas jalur alternatif terbatas.

Namun tekanan dari sisi suplai tetap dominan..

Pergerakan harga mengikuti arah tersebut tanpa jeda panjang..

Faktor lain datang dari konflik produksi antara Arab Saudi sekaligus Rusia pada Maret 2020..

Namun hanya dalam beberapa tahun, harga justru berbalik arah-melonjak hingga mendekati bahkan menembus US$100 per barel di tengah konflik geopolitik terbaru..

Pada 20 April 2020 atau sebulan setelah Covid-19 diumumkan sebagai pandemi global, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), jatuh ke teritori negatif hingga sekitar -US$37 per barel.

Ketika konsumsi berhenti, harga dapat jatuh hingga tidak memiliki nilai.

Meskipun Pemangkasan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah,, tetap saja harga tetap tertekan sepanjang paruh pertama tahun tersebut…

// .

Brent naik ke rata-rata US$40 per barel pada Juni.

Kegagalan mencapai kesepakatan produksi memicu lonjakan suplai di tengah permintaan yang runtuh..

Kontrak yang mendekati jatuh tempo mengharuskan pemegangnya menerima pengiriman fisik.

Tahun 2020 diisi kelebihan pasokan dengan permintaan yang jatuh tajam.

Kejatuhan ini terjadi di tengah runtuhnya permintaan global akibat pandemi COVID-19.

IEA mencatat pasokan global turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret 2026.

Tahun 2026 diwarnai gangguan distribusi. Tak hanya itu, penurunan produksi turut berperan penting..

Aktivitas ekonomi berhenti, perjalanan dibatasi, konsumsi energi turun tajam dalam waktu singkat..

Pelonggaran pembatasan aktivitas mendorong konsumsi.

Negara-negara Teluk memangkas produksi lebih dari 10 juta barel per hari..

Pada saat itu, pasar menghadapi kelebihan pasokan besar.

Enam tahun berselang, arah pasar berbalik.

Produksi tetap berjalan ketika konsumsi jatuh.

Negara anggota IEA merespons dengan melepas 400 juta barel dari ca. Tak hanya itu, gan darurat untuk menjaga pasokan pasar. turut berperan penting..

// .

Melansir dari IEA per 12 Maret 2026, gangguan pasokan menjadi faktor utama.

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar energi global pernah menyaksikan momen yang nyaris tak masuk akal..

Perubahan ekstrem ini menunjukan karakter minyak sebagai komoditas yang sensitif terhadap gangguan global.

Situasi ini berlanjut hingga Organization of the Petroleum Exporting Countries sekaligus mitranya menyepakati pemangkasan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari mulai Mei 2020..

Konflik di Timur Tengah menghambat aliran minyak melalui Selat Hormuz yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20 juta barel per hari.

Perkembangan terkait Zaman Edan: Belum Lama Harga Minyak Masih Minus, Sekarang US$100 akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.


Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.

Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official

Baca juga:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By