Equityworld Futures Trillium Surabaya – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Mendag Yakin Ekspor ke AS Naik Setelah Perjanjian Dagang yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan oleh Tim Riset EWF untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
MENTERI Perdagangan Budi Santoso optimis ekspor Indonesia ke Amerika Serikat akan meningkat setelah penandatanganan Perjanjian Dagang Resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada Jumat pagi waktu Indonesia, 20 Februari 2026.Budi mengatakan tarif impor Indonesia ditetapkan sebesar 19 persen untuk masuk ke Amerika Serikat (AS).
Jadi bisa tahun ini bisa implementasikan, 90 hari kan setelah ratifikasi.
Namun, terdapat kurang lebih 1.819 pos tarif produk asal Indonesia yang mendapatkan fasilitas bea masuk 0 persen.”Harapan kita naik ya, target kita naik, harus naik.
“Saya kira ratifikasi tahun ini mungkin selesai lah, ini kan masih awal tahun.
Hilirisasi itu salah satu supporting policy-nya adalah dari sisi perdagangan memang merestriksi ekspor bahan mentah.
Karena kan begini, sekarang kan sudah beberapa komoditas 0 persen, komoditas unggulan kita itu yang bisa masuk ke sana.
Ya mudah-mudahan, ya harus kita kejar secepatnya lah,” ujarnya.Adapun komoditas yang mendapatkan tarif 0 persen ke pasar AS, antara lain adalah minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang.Selain itu, Indonesia sekaligus AS menyepakati skema tarif 0 persen untuk produk tekstil dan garmen (apparel) melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).Skema tersebut memungkinkan volume tertentu ekspor tekstil dan garmen Indonesia masuk ke pasar AS tanpa Bea Masuk..
Namun, besaran kuota akan ditentukan berdasarkan jumlah bahan baku tekstil yang diimpor Indonesia dari AS,, misalnya kapas (cotton), ditambah lagi dengan serat buatan (man-made fiber).Pada Januari-Desember 2025, Amerika Serikat menyumbang surplus sebesar US$ 21,12 miliar…
Contohnya, kakao, selama ini malah kita kekurangan, karena selain produksi di dalam negeri makin lama makin terbatas, sementara yang sudah diproduksi pun banyak prefer untuk di ekspor ke luar negeri daripada ke dalam negeri karena lebih cuan,” ujar dia.Menurut Faisal, pemerintah tidak boleh lupa dengan agenda percepatan penghiliran demi mendongkrak industri dalam negeri, baik itu di sektor pengolahan hasil pertanian/perkebunan maupun pertambangan.“Jadi kalau ada mengurangi lagi hambatan untuk mengekspor bahan mentah, makin mudah orang untuk mengekspor bahan mentah ini. Selain itu, makin susah untuk kita mendorong hilirisasi perkebunan, yang mana ini merupakan agenda prioritas pemerintah,” katanya.. Akibatnya, Entah itu total ban atau larangan secara menyeluruh atau dengan memberikan hambatan dalam ekspor seperti ada biaya keluar,” kata Faisal.“Dan itu diperlukan supaya masuk industri hilir,… dapat dilihat pada Alasannya adalah investor di industri hilir perlu memastikan kecukupan bahan baku di domestik,” ujar dia menambahkan.Selain itu, Faisal mengatakan hal tersebut dapat berpengaruh terhadap upaya pembangunan industri komoditas-komoditas tersebut di dalam negeri.“..
Komoditas penyumbang surplus terbesarnya adalah mesin. Di samping itu, perlengkapan elektrik serta bagiannya, pakaian dan aksesorisnya (rajutan), serta alas kaki.Nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$ 30,96 miliar, dengan pendorong utamanya mesin/peralatan mekanis dan sebagainya, kendaraan dan bagiannya, serta besi dan baja.Sementara nilai impor Indonesia dari Amerika Serikat tercatat US$ 9,84 miliar, dengan komoditas utamanya adalah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, biji dan buah mengandung minyak, dan mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya. juga perlu diperhatikan..
Penyebab utamanya adalah kebanyakan pos tarif produk tersebut merupakan komoditas, misalnya minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, ditambah lagi dengan karet, yang belum diolah atau diberikan nilai tambah.“Kalau komoditas utama sawit, kopi, kakao, bukan berarti tidak bagus untuk eksportir yang bahan mentah, ya, (tentu) akan menguntungkan,. Akibatnya, Adapun Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengingatkan pentingnya agenda penghiliran di tengah kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan AS.Faisal menilai hal itu perlu menjadi perhatian terjadi…..
Nah otomatis seharusnya naik dong,” kata Budi di Jakarta, Jumat.Dia berharap proses ratifikasi dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) dapat dirampungkan tahun ini,. Akibatnya, implementasinya dapat segera berjalan..
Perkembangan terkait Mendag Yakin Ekspor ke AS Naik Setelah Perjanjian Dagang akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun oleh Tim Riset Equityworld Futures Surabaya berdasarkan analisis data pasar dan pemberitaan terbuka di media sosial serta portal berita global.
Peringatan Risiko: Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan menambah wawasan, bukan merupakan rekomendasi investasi. Trading futures dan instrumen keuangan lainnya mengandung risiko tinggi yang dapat mengakibatkan kerugian sebagian atau seluruh modal Anda. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut:
Berita Terkini Equity World Futures |
Equityworld Futures Official
Baca juga:
- Melihat Anggaran BPJS untuk Masyarakat Miskin 2026
- Equityworld Trillium Surabaya – Peran Bank Sentral dan Dampaknya di Pasar Global